by

Syahid dan Corona

Oleh : Hilma Rosyida Ahmad

Jadi syahid ada 2 macam:

1. Syahid dunia; yaitu mereka yang mati ketika peperangan melawan musuh kafir; maka jenazahnya tidak dimandikan, tidak dikafankan & tidak dishalatkan. Dikuburkan dengan pakaiannya karena itu bekas perbuatan taat tidak kita hilangkan, sebagaimana muhrim dikuburkan dengan pakaian ihram karena itu bekas amal ketaatan.

2. Syahid akhirat; mereka yang tertimpa berbagai hal yang diharapkan memperoleh pahala syahid meskipun mati di ranjang.Mulai lah merubah adat (kebiasaan) menjadi ibadat dengan niat & keridhaan, mencontoh Sayyidina Rasulullah SAW

:(قُلۡ إِنَّ صَلَاتِی وَنُسُكِی وَمَحۡیَایَ وَمَمَاتِی لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ لَا شَرِیكَ لَهُۥۖ وَبِذَ ٰ⁠لِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِینَ)[

Surat Al-An’am 162 – 163]Ketika makan; makan lah dengan penuh rasa syukur, ridha, makan yang halal saja & gunakan untuk perbuatan taat, sehingga kamu itu dalam ibadah setiap waktu.Bukanlah makan sementara dirimu tidak ridha & menginginkan makanan yang lebih hebat; seperti halnya binatang.Makan lah sambil meresapi hakikat dari yang dipandang di depan mata…

(فَلۡیَنظُرِ ٱلۡإِنسَـٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦۤ ۝ أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَاۤءَ صَبࣰّا ۝ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقࣰّا ۝ فَأَنۢبَتۡنَا فِیهَا حَبࣰّا ۝ وَعِنَبࣰا وَقَضۡبࣰا ۝ وَزَیۡتُونࣰا وَنَخۡلࣰا ۝ وَحَدَاۤىِٕقَ غُلۡبࣰا ۝ وَفَـٰكِهَةࣰ وَأَبࣰّا ۝ مَّتَـٰعࣰا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَـٰمِكُمۡ)[

Surat ‘Abasa 24 – 32]Allah SWT Menciptakan aneka ragam makanan dari 2 bahan yaitu tanah & air, menunjukkan bahwa Dia-lah Yang Melakukan semuanya & Dia-lah Yang Maha Memberi rezqi.Contoh lah Sayyiduna Rasulullah SAW yang mengagungkan nikmat walaupun kecil sekali karena Beliau memandang pada siapa Yang Memberi nikmat itu.

Beliau SAW mensyukuri yang sedikit & yang banyak.Setelah fath Makkah, Rasulullah SAW mendatangi rumah Umm Hani, puteri paman Beliau Abu Thalib, disuguhi makanan potongan (hancuran roti) sisa makanan anak2 kecil & khal (cuka). Beliau pun memuji dengan mengatakan: “Idam (lauk) terbaik adalah cuka”..

Beliau memandang pada Yang Memberi nikmat, padahal Beliau saat itu adalah seorang panglima perang satu2nya yang menaklukan Makkah.Marilah memperdalam cara pandang pada dunia & rezqi, jangan sampai merugi dalam perjalanan hidupmu.

(بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ وَٱلۡعَصۡرِ ۝ إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ ۝ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ)

[Surat Al-Asr 1 – 3]Al-‘Ashr adalah potongan dari zaman, itulah masa hidup seseorang, maka jangan sampai merugi.Mari mencontoh Beliau SAW yang terbaik dalam berniat & beramal ibadah..Di masa sekarang banyak orang yang ketakutan karena virus atau mikrob..

Dan mikrob begitu banyak berada di sekitar kita, di hawa yang kita hirup ataupun di makanan/minuman yang kita konsumsi.Dan kita harus yakini bahwa yang membuat kita sakit adalah Allah SWT bukan virus ataupun mikrob.Semuanya di tangan Allah.Jika terjadi waba di daerahmu; maka jangan lah kamu keluar lari dari penyakit itu & menjadi sebab tersebarnya penyakit di daerah lain.Ketika kamu tertimpa sakit itu bersabarlah.. Memperoleh syahid jika mati.

Kalau bukan yang terkena penyakit maka kamu memperoleh pahala yang tinggi lebih dari pahala amal perbuatan lisan & perbuatan seperti puasa & shalat karena kamu bertawakkal, berserah diri & ridha pada-Nya.Rasulullah SAW bersabda bahwa “tidak ada penularan & tidak ada sebab sial”.

Maksud tidak ada penularan: yang mempengaruhi hanya Allah, begitu banyak orang yang berinteraksi dengan para pesakit tapi tidak terkena sakit. Dan kalau memang dari penularan lalu siapa yang menyebabkan pesakit pertama menderita.Tidak ada sebab sial; kebaikan & keburukan di tangan Allah SWT, tidak menganggap sial dikarenakan melihat binatang warna hitam, hari selasa, bulan safar dst.Itu secara hakikat.. Lalu secara syari’at kita harus mengambil sebab musabab,

Rasulullah SAW mengatakan “agar lari dari orang yang kena kusta sebagaimana lari dari singa”. Jadi kita mesti mengambil usaha penjagaan, karena berjaga lebih baik dari mengobati, dengan menyadari bahwa Allah SWT lah Yang Penjaga sesungguhnya.Sebagaimana ketika sakit kita minum obat sebagai bentuk ibadah, dan meyakini yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Allah SWT Menceritakan tentang pertemuan Sayyidina Musa & Sayyidina Khedr ‘alaihima as-salam.Syari’at Nabi Musa di Taurat adalah hal2 zhahir saja, sementara Sayyiduna Khedr hanya menjalani kehidupan secara hakikat. Makanya Nabi Musa belajar..Dan syari’at Nabi kita SAW adalah gabungan antara syari’at & hakikat, Musawi & Khedri dalam thareqat yang paling mudah karena keberkahan Sayyidina Muhammad SAW.Dalam hadits Rasulullah SAW mengajarkan do’a supaya terhindar dari hal2 yang menakutkan..

Di akhir zaman, banyak waba karena laboratories membuat banyak mikrob genetic baru, karena beberapa hal kadang mikrob itu keluar sehingga membuat penyakit yang tidak ada obatnya.Dan do’a Sayyidina Rasulullah ini baiknya kita amalkan di masa ini & kita ajarkan pada anak2 kita.. Suatu do’a pendek & indah.Dibaca pagi & sore, begini caranya:

تحصنت بذي العزة والجبروت، واعتصمت برب الملكوت، وتوكلت على الحي الذي لا يموت، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير.تحصنت بذي العزة والجبروت، واعتصمت برب الملكوت، وتوكلت على الحي الذي لا يموت، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير.تحصنت بذي العزة والجبروت، واعتصمت برب الملكوت، وتوكلت على الحي الذي لا يموت، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير، اصرف عنا الأذى إنك على كل شيء قدير.”

Aku berlindung pada Yang Maha Memiliki kemuliaan & kekuatan, aku berpegang erat pada Tuhan Yang Maha Memiliki kekuasaan, aku bertawakkal pada Yang Hidup & tidak mati. Jauhkan lah dari kami segala adza (hal yang menyakitkan atau buruk), sesungguhnya Engkau Maha Mampu untuk Melakukan apa saja. Jauhkan lah dari kami segala adza, sesungguhnya Engkau Maha Mampu untuk Melakukan apa saja. Jauhkan lah dari kami segala adza, sesungguhnya Engkau Maha Mampu untuk Melakukan apa saja”. (Dibaca 3 kali)—Sebagian isi khutbah Maulana Syekh Yusri Rusydi al-Hasani

Sumber : Status Facebook Hilma Rosyida Ahmad

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed