Swab Saat Puasa Ramadhan

3. Ulama Malikiyah
( وَ ) كَفٌّ ( عَنْ وُصُولِ مَائِعٍ ) مِنْ شَرَابٍ أَوْ دُهْنٍ أَوْ نَحْوِهِمَا ( لِحَلْقٍ ) وَإِنْ لَمْ يَصِلْ لِلْمَعِدَةِ وَلَوْ وَصَلَ سَهْوًا أَوْ غَلَبَهُ فَإِنَّهُ مُفْسِدٌ لِلصَّوْمِ ، وَلِذَا عَبَّرَ ” بِوُصُولٍ ” لَا بِإِيصَالٍ . وَاحْتُرِزَ بِالْمَائِعِ عَنْ غَيْرِهِ كَحَصَاةٍ وَدِرْهَمٍ فَوُصُولُهُ لِلْحَلْقِ لَا يُفْسِدُ بَلْ لِلْمَعِدَةِ .

Puasa mencegah dari masuknya benda cair ke tenggorokan, seperti air, minyak dan lainnya, meski tidak sampai ke lambung, walaupun masuknya benda tadi karena lupa atau tidak sengaja. Pengecualian dari benda cair adalah benda yang beku, seperti kerikil dan uang koin. Masuknya benda tersebut ke tenggorokan tidak membatalkan puasa, tapi ke dalam lambung maka batal (Hasyiah Ash-Shawi 3/260)

Dengan demikian, bagi kaum Muslimin dan Muslimat yang harus menjalani proses Swab saat puasa Ramadhan untuk kemaslahatan kesehatan saat berpuasa diperkenankan untuk mengikuti pendapat ulama yang menyatakan puasanya tidak batal, karena alat Swab tidak sampai masuk ke dalam perut dan pada alat tersebut steril tidak mengandung apapun.

Karena Swab dengan memasukkan alat sampai ujung dalam hidung terdapat khilafiyah ulama, maka MUI Jatim tetap menyarankan dalam pemeriksaan untuk menggunakan Rapid Test atau GeNose yang tidak sampai membatalkan puasa. Namun sebagaimana dijelaskan oleh Dr. dr. Atoillah Isvandiary (Wakil Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair dan anggota Badan Kesehatan MUI Jatim) kedua cara ini masih sebatas secreening -penanda penyakit yang belum dikenal-. Bila kemudian diagnosa Covid-19 maka satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan Swab PCR dan tidak ada pilihan lain.

Rangkuman ini harus segera saya sampaikan menyusul banyaknya pertanyaan terkait hasil keputusan Sidang Komisi Fatwa MUI Jatim Rabu kemarin.

Sumber : Status Facebook Ma’ruf Khozin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *