by

Susah Ngadepin Salah Kaprah

Oleh : Sahat Siagian

Permintaan maaf LBP mendapat reaksi beragam dari tokoh masyarakat. Sebagian memuji dan berterima kasih atas keterbukaan LBP. Sebagian lain, seperti biasa, nyinyir.Ribuan korban sudah mati, kata mereka, pemerintah harus minta maaf. Saya bingung, kehilangan orientasi. Ah, ternyata saya sempat lupa bahwa saya hidup di Indonesia. Di sini mati-hidupmu ditanggung pemerintah. Berbeda dengan Eropa dan USA. Mereka mau mengatur diri sendiri.

Di sini, sebagian rakyat menuntut perhatian dan bantuan pemerintah terbagi rata. BLT harus terbagi ke semua orang, tuntut mereka. Jangan heran kalau Risma menemukan rumah penerima bantuan berlantai tiga. Lucunya, sebagian orang, yang menerabas kewenangan pemerintah bertindak legit dalam soal UU, minta agar pemerintah bertindak keras. Para pesohor ngehek juga ikut-ikutan mengecam rencana perpanjangan PPKM darurat. Saya mulai diserang mabok laut. Ketika pandemi meluas dan fasilitas publik terancam lumpuh, epidemi 101 mengajarkan kepada kita sejak berabad-abad: turunkan mobilitas. Itu dalil yang masih berlaku selama manusia masih cuma mungkin tinggal di Bumi.

Sebagian memang terancam kelaparan karena dipaksa untuk berada di rumah. Mereka nggak punya duit, nggak punya tabungan, terancam mati. Tapi pilihan harus diambil sebelum seluruh negeri sengsara. Kepada mereka yang tak makan, pemerintah mengulurkan tangan. Kita yang memiliki kelegaan untuk menolong, berbuatlah agar mobilitas turun, agar orang-orang berada di rumah.

Selama 3 hari berturut jumlah kasus baru melandai. Apakah itu prestasi para dokter dan rumah sakit? Kalap betul kamu? Itu prestasi pemerintah yang berhasil menurunkan mobilitas dan menggenjot vaksinasi, serta prestasi rakyat yang mau tertib mematuhi aturan. Cuma itu kekuatan kita. Jadi, jangan malah kalian suruh PPKM darurat dihentikan. Saya mulai bercuriga bahwa kalian ketagihan popularitas dan utok kalian dodol. Penurunan mobilitas, sekali lagi, adalah rumus yang teruji berabad-abad dan masih berlaku hingga sekarang.

Sebagian orang mungkin menderita kelaparan tak tertolong. Pertumbuhan ekonomi terhenti bahkan bergerak turun. Tapi itu salah satu pilihan. Dan pilihan harus diambil. Mana lebih pantas di otakmu: kita siap mati bersama? Atau kita sanggup jatuh miskin bersama dan bertolong-tolongan? Selama rasio vaksinasi belum mencapai 40%, selama orang-orang dungu masih ngoceh soal vaksinasi konspirasi bahkan tak percaya Covid, negeri ini terancam lumpuh. Tapi, dengar-dengar, kepatuhan masyarakat meninggi sekarang. Syukurlah. Akan tiba saatnya tak cuma kita bebas ke luar rumah. Kita bahkan bakal berciuman lagi. Harapan akan hal itu sungguh memabukkan.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed