by

Surga Karbitan

Saya tahu persis apa tugas-tugas asisten seperti dia itu. Dia kondang karena kebetulan si Maulana absen tidak bisa tampil.Kebetulan tampang dia cocok tampil di TV. Produser gambling tampilkan dia daripada acara gak jalan. Ehh ternyata ratingnya bagus dan sejak itu dia digoreng habis-habisan oleh media TV buat kejar rating.

Orang-orang dibelakang acara itu leganya bukan main karena nemu “barang bagus.” TV lain penuh penceramah yang medok Jawa , Betawi atau Sunda ehh ini e..de..de.. punya logat medok dari Tanah Para Daeng Ji.. Unikkan.. laku nih dijual. Itu pikiran media.

Sementara, ustad karbitan itu juga senang pangkatnya naik dari sekedar nulis skrip kini menjadi penceramah betulan. Duitnya juga makin tebal. Namanya juga makin kondang sampai kelewatan.Bahkan ada ustad-ustadan satu level sama dia yang pamer foto bareng sama istri yang sedang netekin anaknya.

Sebenarnya anak kecil si ustad dadakan dan sejenisnya itu tengah mengalami sindrom “Fame and Famous.” Dan ini melanda semua orang yang jadi sorotan media. Media mengekploitasi segalanya memanfaatkan gempita super senang orang yang tiba-tiba terkenal.

Tadinya sebagai asisten, ustad karbitan bisa baca banyak buku dan copy paste gagasan yang nyantel diotaknya. Namun karena sudah tampil dan harus kejar tayang, rutinitas itu tidak bisa dilakukan lagi. Akhirnya dia gelagapan cari topik karena kurang bahan sementara staminanya berada dalam kelelahan. Jadi apa yang dibenaknya itulah yang dia keluarkan.

Bisa jadi sebelum tampil, ustad-ustadan yang masih jomblo itu sedang birahi hingga pikirannya dipenuhi khalayan erotisme. Jadilah pesta-pestaan itu terlontar ditengah puluhan emak-emak yang sudah merasakan enaknya gituan.

Sementara produser dan orang-orang dibalik program itu juga dikejar target hingga sensitivitasnya tumpul akibatnya kata-kata jorok itu muncul. Atau bahkan mungkin mereka sekedar pekerja media pemakan gaji semata yang dicomot garap program agama padahal baca Quranpun tidak bisa. Yang penting program jalan. Selesai perkara.

Jadi artinya, semua kontroversi itu hasil karbitan. Semua yang terlibat matengnya dadakan. Hasilnya, Ustad bantet itu muncrat dengan khayalan surga-surgaan. Padahal dia pasti gelagapan jika didebat soal apa itu surga dan neraka. Termasuk siapa yang menghuninya.Apakah sebagai sosok manusia yang terdiri dari daging dan nyawa. Ataukah nyawa kita saja yang menghuni jasad kita.

Coba si Syam al Merusi ( demikian dia menyebut dirinya) bahas soal ginian. Bakal nungging dia..

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed