by

Surga dalam Imajinasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Suatu hari aku melihat seekor induk kucing bersama tiga anaknya sedang bermain main di teras rumah tetangga didepan rumahku. Tiba-tiba ketiga anak kucing itu melompat agak jauh meninggalkan ibunya, karena melihat ada bayang-bayang hitam bergerak gerak di dinding tembok rumah, bayangan pakaian yang dijemur pada tali jemuran tetangga depan rumah yang tertiup angin. Mereka saling tubruk, saling terkam, satu dan lainnya berusaha menangkap bayangan hitam yang terus bergerak itu, sebaliknya induk kucing yang sudah banyak berpengalaman cuma berbaring santai dilantai mengawasi ketiga anaknya yang sedang asyik tubruk sana tubruk sini berusaha menangkap bayangan hitam bergerak pada dinding rumah saling dahulu mendahului sesama saudara.

Tanpa ku sadari, aku jadi tersenyum sendiri melihat kelakuan ketiga anak kucing yang saling terkam dan saling tubruk satu sama lain akibat tertipu oleh bayangan hitam yang terus bergerak pada dinding rumah itu, teringat akan jutaan manusia yang sampai hari ini saling hujat, saling terkam, saling “klaim” sebagai satu satunya penguasa surga. Setelah segala upayanya untuk mendapatkan bayangan itu tidak berhasil, dengan langkah lunglai, mereka bertiga berjalan kembali kearah dimana induknya berbaring, dan satu persatu kembali menyusu pada puting susu induknya, lalu mereka bertiga terlelap tidur dengan damai dalam dekapan sang induk.

Begitulah manusia yang hidup dibawah cengkeraman DELUSI, mereka tak ada bedanya dengan ketiga anak kucing itu. Mereka saling tubruk, saling terkam, saling hujat, bahkan saling bunuh, hanya untuk mendapatkan bayang-bayang yang tidak akan pernah mereka tangkap. Orang-orang itu telah dibuat bodoh oleh bayang-bayang yang terus bergerak didepan bola matanya, seakan membius mereka, membangkitkan keinginan mereka, untuk dapat menangkap dan memiliki nya dengan segala cara, tapi kenyataannya tak seorang pun yang berhasil memperolehnya. Mereka bahkan telah kehilangan akal sehatnya, sehingga tidak mampu mengerti bahwa apabila mereka ingin menangkap dan memiliki bayangan itu, mereka harus terlebih dahulu menangkap dan mendapatkan “Benda Aslinya, Pokok daripada munculnya bayangan itu”.

Jika orang ingin mendapatkan dan memiliki Surga, karunia paling agung dari Sang Pencipta Yang Maha Agung, maka orang harus terlebih dahulu mencari dan mendapatkan Sang Pemilik, bukan malah berlomba dan saling tabrak satu dengan lainnya mengejar “Bayang-bayang halusinasi” yang dinamakan agama. Orang yang sadar dan segera kembali ke pelukan “Ibunya sendiri”, menyusu dan berbaring didalam dekapan Ibu kandungnya ; kembali kepada ajaran leluhurnya sendiri, maka dia akan mendapatkan surga yang sesungguhnya, bukan surga halusinasi yang diiming-imingkan oleh ajaran asing.

Sejak hampir 1500 tahun, dunia manusia telah tercabik cabik, luka di sana sini, berdarah darah di sana sini, terpecah belah menjadi puluhan ribu puzzle yang disebut dengan “Denominasi”, akibat ketiga golongan itu terus berseteru memperebutkan bayang-bayang surga, dan kenyataannya tidak satu pun yang berhasil menangkap dan memilikinya. Tapi … sungguh menyedihkan .. sampai hari ini orang-orang yang kehilangan akal sehatnya itu terus saja cakar-cakaran, saling tabrak dan saling hujat, bahkan saling bantai, akibat mereka terus berusaha mengejar bayang-bayang, tapi lupa atau lebih tepatnya tak mengerti bagaimana untuk bisa mendapatkan “Pokok daripada bayangan itu”.

Tuhan tidak ada didalam keramaian .. Dia tidak mungkin diketemukan didalam kerumunan manusia .. Dia bersemayam didalam keheningan ; didalam hati sanubari setiap manusia yang tersadarkan. Surga bukanlah bayang-bayang yang tidak mungkin tertangkap oleh tangan manusia, tapi benar-benar nyata dan mampu dimiliki oleh setiap manusia bijaksana. Surga hanya mungkin didapat oleh orang yang tidak terperangkap didalam kerangkeng delusi, tapi manusia merdeka yang utuh, yang selalu mencari dan berusaha menangkap Pokok Pangkal Segala Kebijaksanaan, yang adalah KASIH ( Welas Asih ), tanpa kebencian, tanpa kesombongan, tanpa keserakahan, dan bebas merdeka dari segala delusi, tetap berpegang pada akal budhinya. Disitulah, didalam Welas Asih dan Kebijaksanaan, ada surga yang nyata.

Sumber : Status Facebook Eddy Pranajaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed