by

Surat Untuk Ibu Anies Baswedan

Bu, lihat lah bencana banjir kali ini. Hitunglah dengan kasar kerugian rakyat kecil juga negara. Apakah ibu ingin terus mendengar mereka mencaci maki suami Ibu? Apa Ibu senang membiarkan mereka saling menghujat kesesama? Kasihani suami Ibu, kasihani anak-anak ibu. Janganlah membagun tembok di wajah. Tanya nurani ibu, tidak kah ibu sedih melihat penderitaan rakyat kecil seperti kami? Hujan dan bencana memang kehendak Tuhan, Bu. Namun jika Pemimpinnya seorang yang cakap dan tanggap setidaknya banjir yang terjadi di awal tahun kemarin tidak akan separah ini.

Jujur, saya terkadang kasihan dan malu sendiri saat membaca segala hujatan tentang suami yang ibu cintai. Tak jarang saya juga turut berkomentar mengejek. Dalam hati saya selalu bertanya, kok ibu membiarkan semua ini? Atau ibu merasa Bapak sedang berjihad dan berada di jalan kebenaran? Apakah Ibu tidak bisa lihat, suami Ibu layaknya sebuah boneka lebih tepatnya wayang yang dimainkan sang dalang. Dari relung hati paling dalam saya turut prihatin pada keluarga Ibu.

Semoga mata hati serta pikiran ibu terbuka dengan adanya bencana banjir yang melanda Jakarta. Sampaikanlah pada suami Ibu
“MENGAKUI KEKALAHAN DAN KETIDAKMAMPUAN ITU LEBIH SATRIA DARI PADA BERTAHAN HANYA UNTUK MENJAGA HARGA DIRI YANG SUDAH TERINJAK-INJAK SEBAB SEBUAH EGO.”
Semoga saja nurani ibu sebagai istri dan seorang perempuan masih peka. Maaf kan atas tulisan yang menyinggung ini. Semua sebab keprihatinan saya atas musibah yang menimpah saudara/i saya di Ibu Kota dan sekitarnya.

Sumber : Status Facebook Akiet Liem

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed