by

Surat Terbuka Untuk Putri Candrawathi

Oleh: Erna Gunawan

epada Yth Ibu Putri Candrawathi

Ibu Putri,

Sedang apa Ibu sore ini? Semoga air mata telah kering setelah lelah jiwa ditumbuk-tumbuk derita yang tak tertanggungkan. Brigadir Josua telah menyelesaikan kisah hidupnya. Ia telah istirahat dari rasa sakit. Namun, kisah Ibu dan Bapak Ferdy masih berlanjut, di tengah jutaan pasang mata murka memandang tajam. Di tengah hujan caci dan maki dari berbagai penjuru negeri. Juga, anak-anak turut menanggung aib. Saya pun ngeri membayangkan apa yang ibu alami. Seperti neraka di dalam hidup. Apa pun latar di balik itu.

Jalan hidup kita, tak pernah kita ketahui. Menjadi pasangan suami istri – nasib dan takdir harus rela dilalui. Semua akan menjadi milik kita bersama. Akan lain ceritanya jika Ibu menikah dengan pria sederhana, menjadi petani di desa. Barangkali saja, Bu Putri sesore ini tengah ada di depan tungku api, dan membakar ubi, setelah seharian menyiangi ladang. Tak ada ajudan, tak memerlukan salon dan baju dari butik, juga tak membutuhkan jalan-jalan ke luar negeri. Tak perlu mobil Lexus, cukuplah kaki kuat menopang untuk berjalan, bercengkerama bersama angin dan burung-burung. Tetapi, kenyataannya, Ibu istri seorang jenderal – di mana telunjuk mengarah dapat menjadi “hitam” atau “putih”. Tetapi, di hadapan Tuhan, sama saja, kan Bu? Baik Petani atau pun jenderal – tak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah.

Ibu Putri,

Dengan apa kita harus menutup luka yang terlanjur menganga? Sekuat apa pun jeritan tak akan pernah mengembalikan nyawa Josua. Sekuat apa pun lolongan kepedihan, tak akan pernah mengembalikan kisah sejarah Sambo dan Bu Putri. Seluruhnya telah menjadi kisah yang akan dipeluk sepanjang hidup. Jalan Ibu begitu terjal dan gelap, tetapi apakah Ibu melihat cahaya, Bu? Ada Bu….! Cahaya itu ada……Ibu masih memiliki Tuhan yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.

Anak panah membutuhkan tarikan busur ke belakang lebih jauh agar melesat. Tak ada kupu-kupu yang indah di taman sebelum melalui penderitaan. Banyak kisah-kisah sejarah, orang-orang yang jatuh ke titik terendah dalam hidupnya, kemudian melesat. Semua manusia penah melakukan kesalahan, butuh perjuangan untuk keluar dari lumpur kesalahan yang dalam.

Jadilah cahaya, Bu..sekalipun kerlip dengan melampaui seluruh tragedi dan kerapuhan – Bu Putri keluarlah dari rumah, dan tegakkan langkah. Jadilah Socrates – sekalipun harus minum racun untuk mengatakan kebenaran. Socrates dikenang dari zaman ke zaman dengan nama yang harum. Kejujuran dan kerendahan hati adalah cahaya. Kejujuran dan kerendahan hati Ibu Putri akan menyinari kehidupan dan menyelamatkan diri sendiri dan banyak orang.

Salam hormat,

Erna Gunawan

(Sumber: Facebook Erna Gunawan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed