by

Surat Pada Ibu-Ibu Nusantara Melindungi Almira

Selain hal yang lebih teknis, apakah kita percaya akan dua hal yang menjadi latar belakang dari surat terbuka Almira? Pertama, apakah betul sekolah Almira, memberikan tugas serupa?

Kedua, jika pun betul ada tugas sekolah seperti itu, apakah surat yang dibuat Almira tidak ada intervensi dari saudara AHY? Atau jangan-jangan sebagian besar dari isi surat Almira adalah hegemoni pikiran sang ayah? Karena apakah kita percaya untuk seusia Almira, yang terhitung sebelas tahun memiliki hasrat politik. Dalam dimensi itu saya kira kita perlu curiga, bahwa narasi itu tidak hadir tanpa intervensi yang hegemonik seorang ayah kepada anak perempuannya.

Bukankah ini adalah sebuah tragedi. Ditengah cerita harmonis keluarga, yang serba kompak, serba selaras, dan selalu harmonis dalam senyum meski basa basi. Ternyata tersingkap sebuah intimidasi pikiran yang begitu keji, dari seorang ayah kepada anak semata wayangnya.

Sudahlah sepatutnya seorang ayah yang mencintai anak-anaknya, melindungi anaknya dari semua potensi yang bisa menggoyahkan jiwa sang anak. Bukan sebaliknya, secara sadar serta sengaja menggiring sang anak ketengah lapangan tembak dengan tangan terikat dan mata tertutup rapat.

Kaum ibu yang saya hormati.

Orang dewasa mana yang rela dan tega jika melihat seorang anak menjadi korban perundungan atas aksi politik orang tuanya? Saya mengajak kaum perempuan dan kaum ibu untuk melihat masalah ini secara holistik. Bahwa kita menolak siapa pun melakukan perundungan pada Almira itu adalah satu hal. Tetapi dalam hal lain yang jauh lebih penting, adalah satu tindakan keji orang tua yang dengan sengaja dan sadar memposisikan sang anak dengan konsekuensi seperti ini.

Kekejian itu, seakan dibalut dengan topeng intelektual dan kecakapan sang anak dalam menggunakan bahasa asing. Betapapun diupayakan surat itu terlihat otentik, tetaplah publik melihat raut wajah Almira dalam tekanan ambisi sang ayah. Bukan saja Almira duduk dihapit oleh kedua orang tuanya, bahkan Almira digiring oleh keduanya dalam cara pandang yang sempit.

Akhirnya kita kembali bertanya, pada diri kita sendiri. Manakah yang lebih biadab? Mereka yang pada akhirnya merundung Almira seorang gadis lugu, cerdas dan apolitis? Ataukah, orang tuanya yang secara terbuka dan sengaja menjadikan anak putrinya umpan politis?

Saudara Agus Harimurti Yudhoyono, terlalu banyak pertanyaan atas kapasitas anda. Selain, kapasitas menjadi majikan dari partai warisan orang tua anda. Kini, orang mempertanyakan kapasitas anda sebagai seorang ayah. Bahkan keberpihakan anda pada masa depan anak anda sendiri.

Salam Akal Sehat!

Jakarta, 5 Mei 2020

Abi Rekso Panggalih

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed