by

Subsidi Orang Miskin

Oleh : M Kholid Syeirazi

Kenaikan harga BBM menyusahkan orang miskin. Saya setuju dengan pernyataan ini, sebab BBM adalah hajat hidup orang banyak dan input dalam proses produksi barang dan jasa. Kalau harga barang dan jasa naik, mereka paling terpukul. Kelas menengah juga terdampak, tetapi daya tahan mereka relatif lebih baik.

Yang perlu kita soal adalah berapa porsi subsidi BBM yang dinikmati orang miskin?

Pertama-tama, kita perlu sepakat dulu siapa itu orang miskin. Menurut BPS, orang dianggap hidup di bawah garis kemiskinan jika pengeluarannya Rp 505 ribu/kapita/bulan. Duit sekecil itu hanya cukup untuk makan dan bertahan hidup. Definisi BPS ini lebih rendah dibandingkan dengan standar Bank Dunia. Orang miskin, menurut World Bank, adalah orang yang pengelurannya USD1.9 per hari. Dengan kurs Rp 14.825/US$, pengeluaran orang miskin sebulan Rp 845 ribu.

Kira-kira, dengan duit Rp 505 – Rp 845 ribu, apa prioritas belanja orang miskin? Makan untuk bertahan hidup! Mungkin mereka tidak punya motor, apalagi mobil. Kalau kita ikuti definisi garis kemiskinan BPS, orang miskin tidak punya fasilitas untuk mengambil subsidi negara. Lalu siapa penyedot subsidi negara? Pemilik motor dan mobil-mobil pribadi, serta para pengusaha, termasuk pengusaha sawit dan tambang.

Di hadapan mahasiswa, saya bertanya, berapa uang saku kalian? Rata-rata mahasiwa di kota-kota besar dapat uang saku dari ortunya Rp 1.5 – 2 juta sebulan. Mereka rata-rata bawa motor. Ada juga yang bawa mobil. Kalau pakai standar BPS, golongan ini jelas tidak termasuk orang miskin. Tapi mereka punya fasilitas untuk menyedot subsidi BBM.

Lalu, orang miskin sendiri, yang muncul dalam setiap narasi menentang kebijakan pemerintah, dapat apa? Dengan duit Rp 505 sebulan, mereka sekadar makan untuk bertahan hidup. Tidak punya motor, boro-boro mobil. Berapa jumlah mereka? Menurut BPS, jumlahnya 26 juta. Jumlah ini masih dikorting jadi 20.6 juta sebagai KPM (Kelompok Penerima Manfaat) BLT BBM. Berapa yang mereka terima? Rp150 ribu sebulan, kali tiga bulan. Cukup? Jauuuuh..!

Subsidi langsung yang diterima orang miskin jauh lebih kecil dibanding yang diterima kelas menengah dan orang mampu. Mari kita pakai simulasi kasar.

Berdasarkan data BKF Kemenkeu, konsumsi BBM per liter 40% golongan terbawah hanya 0.57 liter per hari. Kali setahun jadi 208 liter. Sementara konsumsi 60% kelas menengah atas rata-rata 1.1 liter per hari. Kali setahun jadi 401 liter.

Berapa subsidi masing-masing? Anggap saja subsidi Pertalite Rp 6.800 per liter. Golongan bawah hanya dapat Rp 1.4 juta setahun atau Rp 3.875 per hari. Sementara golongan menengah atas terima subsidi dari negara Rp 2.7 juta setahun atau Rp 7.470 sehari. Njomplang banget bukan?

Sekarang, kalau kelas menengah atas turun ke jalan, kita patut ajukan pertanyaan kritis: kalian menyuarakan kepentingan rakyat atau kepentingan kalian sendiri?

Saya pendukung sistem subsidi tepat sasaran. Subsidi terbuka tidak mungkin tepat sasaran. Kalau subsidi tertutup diberlakukan, hanya orang miskin yang boleh beli BBM bersubsidi. Jumlah mereka, sekurang-kurangnya, 26 juta. Golongan menengah atas, termasuk mahasiswa yang uang sakunya 1.5 – 2 juta sebulan, bukan termasuk mustahik.

Kalau mahasiswa bergerak, jangan hanya teriak soal kenaikan harga BBM. Suarakan juga, dengan toa yang lebih keras, soal subsidi tepat sasaran yang tidak pernah becus diurus setiap rezim. Kritiklah pemerintah, yang baru omong soal subsidi salah sasaran, sebagai dalih untuk menaikkan harga BBM!

Sumber : Status Facebook M Kholid Syeirazi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed