by

‘Sri Mulyani Effect’ Jadi Penguat IHSG

REDAKSIINDONESIA-Pada perdagangan saham sesi pertama kemarin (28/07) IHSG sempat melemah ke level terendahnya di 5.255,47 akibat dilanda aksi ambil untung para pelaku pasar. Namun, pada perdagangan sesi kedua IHSG justru kembali bertenaga dan menutup perdagangan dengan penguatan sebesar 0,47% ke level 5.299,21.

Pengaruh positif atas reshuffle kabinet jilid II terhadap IHSG masih terus berlanjut. Kembalinya Sri Mulyani ke kursi pemerintahan dan resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan masih menjadi salah satu penguat bagi pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin. Selain itu, rilisnya laporan kinerja keuangan beberapa emiten untuk tahun buku semester I-2016 ini yang menunjukkan hasil yang baik turut memberikan kontribusi bagi penguatan IHSG.

Sementara, dari eksternal ada The Fed yang masih tetap mempertahankan suku bunganya di level 0.50%. Keputusan The Fed tersebut mampu meredakan kekhawatiran pasar keuangan. Tercatat 207 saham naik, 131 saham turun dan 91 saham lainnya stagnan. Sektor basic industry masih menjadi sektor paling menarik bagi pelaku pasar di mana sektor ini mengalami kenaikan sebesar 1,73%.

Bursa Asia mayoritas ditutup melemah dengan indeks Nikkei jatuh paling dalam dibanding indeks lainnya. Indeks Nikkei terkoreksi lebih dari 1% ke level 16.476,84 seiring dengan penguatan yen terhadap dollar AS pasca The Fed menahan suku bunganya di posisi 0,50% pada pertemuan FOMC Rabu kemarin.

Sementara, sebagian investor juga masih menunggu keputusan dari pertemuan kebijakan Bank of Japan yang akan berakhir hari ini, semakin menahan laju bursa ke zona positif.

Seiring dengan penurunan minyak mentah membuat bursa AS ditutup mixed di mana hanya indeks Dow Jones yang mengalami pelemahan tipis sebesar 0,09% ke level 18.456,35. Sementara, indeks S&P 500 naik 0,16% ke level 2.170,06 dan indeks Nasdaq menguat 0,30% ke level 5.154,98.

Harga minyak jatuh ke posisi terendah tiga bulan dengan minyak mentah berjangka AS sempat jatuh ke level US$ 40,95 per barel namun kemudian berakhir di level US$ 41,04 per barel. Di samping itu, patokan internasional minyak Brent berjangka juga turun 9 sen menjadi US$ 42,61, level terendah sejak pertengahan April.

Bursa Eropa berakhir di area negatif pada perdagangan kemarin di tengah investor yang memfokuskan diri mencermati serangkaian laporan laba perusahaan. Indeks FTSE 100 melemah 0,44% ke level 6.721,06, indeks CAC 40 turun 0,59% ke level 4.420,58, dan indeks DAX terkoreksi 0,43% ke level 10.274,93. Saham Lloyds memimpin pelemahan sebesar 5,8% pada sektor keuangan dan laporan laba perusahaan minyak Royal Dutch Shell yang mengecewakan juga menjadi salah satu pemberat bagi pergerakan bursa Eropa kemarin di mana Shell melemah 2,9%.

Sementara itu, meskipun mencetak laba bersih kuartal kedua yang lebih baik, saham Credit Suisse justru turun 5%, mencerminkan bahwa bank ini masih underperform. Strategi ekuitas di Credit Suisse mengatakan bahwa banyak investor tetap pesimistis tentang ekuitas Eropa. Kredit macet dari bank Italia masih menjadi penyebab keprihatinan di tengah masih adanya sedikit kekhawatiran Brexit.

Hari ini diprediksi IHSG masih berpotensi menguat. Namun, tetap waspadai aksi profit taking mengingat hari ini merupakan akhir pekan. Secara teknikal IHSG masih berada di area jenuh beli. Namun, indikator Stochastic Oscillator masih bullish, RSI kuat dan Histogram MACD positif. Kami perkirakan hari ini IHSG akan bergerak di kisaran 5268- 5320.(detik.com) **
 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed