by

Sparatisme di Depok

Saat ini jumlah pengangguran terbuka di Jabar mencapai 1,8 juta orang, dari 21 juta angtakan kerja. Itu artinya hampir 10% angkatan kerja di Jabar nganggur. Apalagi pendidikan para pengangguran itu kebanaykan cuma lulusan SMP.

Nah, jika ditelaah, angkutan online ini bisa menjadi pengurang yang sangat signifikan terhadap jumlah pengangguran. Juga sebagai pemerataan kesempatan kerja dan penghasilan. Apalagi dengan sistem pendataan yang baik data pengemudi online akan menjadi penambah data orang bekerja. Jikapun nanti akan dikenakan pajak, karena berinduk pada perusahaan aplikasi, akan lebih mudah bagi pemerintah ketimbang hanya mengambil manfaat dari KIR angkot.

Tapi mungkin soal aplikasi kemajuan teknologi, soal angka pengangguran, soal kesejahteraan rakyat bukan hal yang benar-benar penting di Jabar. Ukuran keberhasilan pemerintah di sana, mungkin saja, berapa banyak jemaah sholat subuh di sebuah masjid.

Tapi kabarnya, ojeg online dilarang dengan logika bahwa secara aturan kendaraan pribadi tidak boleh untuk angkutan umum, tapi justru Pemda malah memfasilitasi ojeg panggalan dengan kartu Lojek. Ini logika paling absurd yang pernah saya dengar. Kesannya malah mau ambil alih bisnis online yang dibangun orang lain dengan senjata kebijakan.

“Mas, kalau Jabar melarang ojeg online sebaiknya Depok memisahkan diri aja,” usul Bambang Kusnadi. Tukang bubur ini, kok mikirnya sparatris banget sih.

“Misahkan diri kemana Mbang?”

“Kita bersatu dengan Surabaya aja. Biar Walikotanya jadi Bu Risma.”

“Mas Bambang emang siap jadi Bonek. Padahal kan fans beratnya Persipok?,” sambut Abu Kumkum.

“Persipok apaan kang?” tanyaku penasaran. “Kedengarannya kayak cipok-cipok gitu.”

“Persatuan Sepak Bola Depok, mas”

Sumber : Status Facebook Eko Kuntadhi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed