by

Soft Skill dan Pandemi

Kemampuan bertahan dengan makanan yg tak sesuai selera itu soft skill juga menurut saya. Apa lagi dalam jangka lumayan lama. Tiga hari menginap di RS itu, terus terang, udah pegel banget. Apa lagi berminggu-minggu. Emosi haruuussss dijaga maksimal. Jika tidak, berarti tambahan beban buat perawat yg sudah “hampir di batas kesabaran”. Baca curhat mereka di status Bu Nina ini deh, atau di WAGs yg anda ikuti. Nangis pasti.

Hal lain: gimana kalau terpaksa ketemu dengan pasien lain yg sifatnya mungkin ajaib menurut ukuran kita, dan terpaksa terkurung berhari2, berminggu-minggu, dengan mereka. Bisa amsyiong kalau nggak tahu gimana menyikapinya. Bisa cakar-cakaran barangkali (tak semua pasien lemah tak berdaya). Terkurung dalam satu ruangan dalam jangka waktu lama, apalagi dengan penyakit yg belum ada obatnya, sudah pasti menggerus emosi dan energi. Saya bisa membayangkan karena beberapa tahun lalu pernah diisolasi 8 hari gara-gara cacar. RS saya itu termasuk keren padahal. Di Kuningan, JakSel. Tapi saya seperti merasa di Rutan Pondok Bambu, hanya selnya lebih luas. Sendirian tiap malam bikin agak parno. Jadi, bagaimana tetap “stay positive, strong and hopeful”? Atau “Be patient, the world has been healing itself.”? Ellaaaaaahhh … itu jauh lebih gampang diomongin daripada dijalanin. Again, it’s your inner skill that will save you, Ferguso.

Covid-19 memang ngeri kok. Bagaimana coba rasanya melihat “kolega” yg sekamar meregang nyawa dan jenazahnya gak bisa cepet dibawa. Mungkin bukan satu, tapi dua. Dus, saya respek betul dengan Bu Nina ini. Nasehat yg saya dapatkan pengalamannya Bu Nina ini buat saya sekarang jauh lebih penting dan tepat guna dibanding nasehat-nasehat teoritis

Eh ya, selain itu, kebayang kalau yg sakit ibu rumah tangga dg tanggungan anak kecil di rumah, tanpa jejaring care-giver yg siapa siaga menggantikan tugasnya. Sa kira jangan coba-coba kasih tausiyah tanpa mengulurkan bantuan, sebab bisa-bisa kita diblokir. Lo-gue, end.

Sampai sini kebayang kan, kenapa sekarang kita lebih butuh mendidik diri sendiri dan keluarga utk “siap-siap” jika terjadi sesuatu yg tidak diharapkan? Nggak, saya nggak ingin anda sakit. Serius. Tapi ini status buat saya sendiri agar “bersedia payung sebelum hujan.” Siapkan mental sebelum kejadian. Itu aja dulu.

PS: Sambil menulis ini saya juga mengingat beberapa adik, kakak, saudara, sahabat perempuan saya, para bread-winner, yg terpaksa WfH. Menjaga keluarga tetap sehat, sregep dan semangat mengerjakan tugas sekolah yg cenderung membeludak, mikirin menu utk menjaga stamina, nyukur rambut karena gak mau kirim anak2 ke salon atau barbershop, menjaga rumah bersih dan tetap steril kalau bisa, plus mengejar deadline, penelitian, menyiapkan kuliah atau bahan ajar bagi dosen dan guru, dsb, dsb …. itu semua berat. Dan kita harus bisa, harus seterong. Emang apa lagi pilihannya? Sehat-sehatlah. Stay at home patiently itu udah paling bener sekarang ini.

Sumber : Status Facebook Nurul Agustina

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed