by

Soeharto Memang Menciptakan Generasi Buta Politik dan Anti Asing

Oleh : Tito Gatsu

Kemarin ini Kita mendengar dari mantan teroris Sofyan Tsauri bahwa anak dari SMA jurusan IPA lebih mudah dipengaruhi menjadi teroris daripada anak IPS … Hmmm betul Itu!! memang terjadi di Indonesia , dan menurut Saya karena anak SMA jurusan IPA di Indonesia dididik hanya sebagai teknokrat tanpa Punya landasan kebangsaan apalagi Tak Pernah belajar sejarah sehingga mereka lebih mudah dimasuki faham cuci otak, mau bukti? Radikalisme Ternyata lebih dekat ke kampus-kampus eksakta seperti misalnya IPB dan ITB dibandingkan dengan kampus yang bercampur antara Ilmu sosial dan Ilmu Pengetahuan Alam , silahkan anda googling sendiri pembuktiannya banyakan Mana kadrunnya ?

Tidaklah terlalu mengherankan ketika hoax dan fitnah menyerang seseorang yang beseberangan dengan Orde Baru atau makian-makian yang jauh dari etika yang disematkan pada yang berbeda pendapat , kemudian Juga cara kekerasan dengan pengkroyokan serta sifat emosional yang mudah meledak karena Itulah yang diwariskan Suharto dan Orde Baru. Bagaimana Kita bisa menampilkan Generasi yang berbudi luhur jika dibangun dari kebohongan dan kejahatan kemanusiaan ?Akhirnya munculah Generasi bodoh , pendebat yang tanpa pernah mengakui kesalahannya seperti juga saat jatuhnya Suharto pada Tahun 1998 seperti runtuhnya sebuah piramida yang kelihatannya kuat namun dibangun dengan tiang -tiang yang rapuh Karena kelihatan kokoh dari luar hanya sebagai tampilan saja.

Masih ingat ketika reformasi 98 mempertanyakan hasil kejahatan korupsi Suharto dengan bukti-bukti otentik?Dijawab oleh Suharto : “Saya tidak punya uang satu rupiahpun dalam rekening !”.Tanpa Pernah disadari kehidupan Generasi muda Indonesia menjadi Generasi yang manja, mudah mengeluh, menyalahkan orang lain takut untuk bicara kebenaran , hal itu tampak jelas dengan hilangnya kepribadian dan cara berpikir di negara kita.Itu karena doktrin yang sekian lama ditanamkan Orde Baru menjadi satu-satunya doktrin yang benar dan satu-satunya ideologi jadi menganggap faham yang lain salah . Jika Kita punya pemikiran yang menyinggung ideologi nasionalis yang lain , misalnya Ideologi sosial atau kekaguman kepada nasionalisme Sukarno jangan heran bila langsung diserang dengan cap PKI. Atau jika Kita mengkritik para pengagumnya yang akhir-akhir ini begitu gencar berlaku seolah-olah Pembela Islam kitapun akan dituduh Islam abangan atau bahkan Kafir . Karena mereka merasa lebih Islam daripada islam Karena mengikuti Islam yang langsung diimpor dari Tanah Arab.

Di samping mereka menanamkan pembentukan hegemoni kejahatan komunisme dan heroisme militer juga cukup penting, dalam hal ini adalah pemuka agama. Pemerintah Orde Baru juga menggunakan istilah-istilah kebudayaan untuk memecah belah anggota masyarakat, yakni dengan istilah ‘abangan’ bagi para penganut agama Islam yang tergabung dalam Partai nasionalis yang dulu diwakili PNI sekarang PDIP juga NU sebagai Islam yang masih mengadopsi kebudayaan Indonesia dan ‘putih’ sebagai Muslim yang taat dan bersih atau Islam yang pro Orde Baru. Bahkan pada Masa reformasi MUI digunakan oleh para politisi dan pengikut Orde Baru, memberi fatwa Haram untuk lawan politik dan mengimpor faham yang bersebrangan dengan Islam yang mengadopsi budaya Indonesia , seperti HTI dan Islam dari tanah Arab yang menolak budaya nasional tak lain hanya bertujuan membentuk opini bahwa MUI dan orde Baru selalu benar dan menutupi sejarah kebohongannya.

Generasi muda sekarang hanya tau bahwa PKI itu jahat tak beragama kemudian a moral kemudian referensi keyakinan beragamapun berubah total Karena ada stigma Islam abangan dan Islam putih.Orang Indonesia dibuat buta untuk berpolitik , dilarang berkeyakinan sendiri dan dilarang berpikir secara bebas. Hal ini berkaitan dengan Genosida Orde Baru dengan pembrangusan semua cara berpikir Nasionalisme ala Bung Karno dan menghambat kecerdasan masyarakat . Padahal Generasi yang maju adalah yang mau belajar dan punya keingin tahuan tentang banyak hal yang inovatif , jika orang hanya dijejali science dan teknologi saja tanpa diberi wawasan berpikir maju maka yang terjadi adalah menciptakan Generasi boneka yang hanya manut apa kata penguasa.

Kesalahan terbesar Suharto dalam pemikiran saya adalah “Dia tidak berpikir akan jatuh dan menciptakan Generasi boneka Imperialisme !”.Diskriminasi bakat dibidang pendidikan , anak-anak yang lahir dan besar di era Orde Baru kurang menghargai ilmu-ilmu sosial , seperti sastra, sejarah, pendidikan kebudayaan bahkan seni , padahal di luar negri bidang ilmu seperti Itulah yang bisa mengangkat derajat suatu bangsa.Di sekolah lanjutan saja bidang jurusan Sastra dan IPS diklasifikasikan menjadi kasta yang lebih rendah dari IPA dan Itu menjadi stigma yang berkepanjangan sampai dengan sekarang padahal ilmu sastra Itu bukan ilmu pasti tapi ilmu yang dapat mempengaruhi cara berpikir orang bahkan masyarakat dan Generasi.

Mari kita lihat definisi Sastra :Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga ke perasaan dalam bentuk yang imajinatif, cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa.Memang ada pelajaran sastra sejak SMA sampai Perguruan Tinggi tapi tanpa referensi dan literatur yang memadai karena pembatasan cara berpikir dan pencegahan masuknya ideologi didalam pikiran generasi muda yang boleh ada hanya ideologi orde baru yang sudah dicekoki terus untuk selalu memuja sang Bapak Pembangunan.Jenderal Bintang Lima Soeharto.

Mantan Presiden Republik Indonesia, sudah meninggal! Jenderal yang “kuat dan perkasa” yang selama kekuasaannya bisa memutihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih, “yang mampu menyihir banyak orang pintar menjadi bebek-bebek, meneluh wakil-wakil rakyat menjadi gagu, dan membuat pers tiarap sekian lama”, kata KH A. Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Rodlatut Thalibin, Rembang.Pelajaran sejarah menjadi pelajaran yang sangat membosankan Karena literasi dan sumber bacaan yang ada banyak yang hilang dan Kita hanya belajar sejarah versi Orde Baru yang belakangan ternyata kita ketahui banyak direkayasa padahal sejarah adalah pelajaran Tentang kebenaran dan fakta, begitu pula pelajaran sastra Indonesia sangat hambar sastra tidak lagi menjadi sumber ilmu pengetahuan karena Kita tidak bisa memiliki sumber literasi yang lengkap begitu juga ilmu sosial yang lainnya.

Pelajaran – pelajaran yang dikucilkan Masa Orde Baru adalah Sastra dan ilmu sosial.Kenapa pemerintah Orde Baru lebih memprioritaskan pelajaran IPA dan menganak tirikan IPS bahkan anak2 yang secara psychotest pun yang harusnya Masuk IPS berusaha masuk IPA?Karena mereka punya dosa besar dalam merekayasa sejarah dan lebih baik menyiapkan tenaga teknokrat sebagai tenaga ahli membantu perusahaan asing menjarah Kekayaan dengan para pemodal yang masive masuk ke Indonesia setelah Tahun 1967.Terutama Amerika Serikat , Negara barat dan Jepang. Pada prinsipnya mereka tidak Ingin orang Indonesia faham poliik dan jika berpolitikpun harus melalui screening Orde Baru jika loyal maka boleh berpolitik begitu pula jika masuk TNI/Pori atau ASN .Masuk TNI (Akmil) tidak bisa diikuti oleh seorang lukusan SMA jurusan IPS

Karena pemerintah Orde Baru menyiapkan Generasi yang betul-betul berpikir pragmatis dan tidak terkontaminasi orang yang menyukai Ilmu sosial dan satra sehingga proses doktrin gaya Orde Baru kepada kader calon Pemimpin bangsa ini selalu ditanamkan untuk loyal kepada Suharto dan Orde Baru. Karena Suharto selalu menyiapkan kader seorang TNI .Jadi ketika Habibie sukses menjadi Wakil Presiden dan bahkan menjadi Presiden adalah momentum “Kecolongan” yang membuahkan proses reformasi .

Sampai akhir hayatnya menjadi penyesalan Suharto yang tidak pernah bisa terobati , dinyatakan dengan tidak mau menerima BJ Habibie sampai beliau meninggal diikuti pula dengan sikap anak-anaknya tak ada satupun ucapan bela sungkawa atau yang hadir ketika Habibie meninggal dunia.Sebenarnya kader beliau adalah Jendral SBY setelah menganggap mantunya Prabowo Subianto tidak bisa diharapkan , walaupun akhirnya SBY bisa menjadi Presiden 2 periode (2004-2014) momentumnya menjadi tidak tepat, tapi maaf saya tidak mau membahas Hal ini disini , anggap saja itu hanya pemikiran saya secara pribadi atau silahkan mulai berpikir dan mencari referensi sendiri.

Padahal Soekarno memberikan satu gagasan yang luarbiasa hebat , yaitu Manipol USDEK merupakan akronim dari Manifesto Politik dari Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia yang oleh Soekarno dijadikan sebagai haluan negara Republik Indonesia, sehingga harus dijunjung tinggi, dipupuk, dan dijalankan oleh semua bangsa Indonesia. Diumpamakan juga Manifesto Politik/USDEK bagaikan Quran dan Hadis shahih yang merupakan satu kesatuan, maka Pancasila dan Manifesto Politik/USDEK pun merupakan satu kesatuan yang sama.Langkah ideologi ini ditetapkan disetiap lini kehidupan dan mulai diterapkan sejak Tahun 1949 hingga 65. Beliau mengangkat kesenian rakyat dan kebudayaan melalui LEKRA dimana sastrawan selalu berkarya tanpa mengabaikan jiwa Nasionalis dan menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia.

Banyak penulis dan sastrawan Indonesia yang dikenal diluar negri bahkan menginspirasi dunia dan karyanya dilarang di Tanah air , seperti , Bung Karno sendiri, bahkan buku karyanya Penyambung Lidah Rakyat , dibawah bendera Revolusi dan Manipol Usdek , dll dilarang pada Masa Orde Baru. Buku-buku karya Tan Malaka yang banyak menginspirasi negara- negara di luar negri bahkan di Belanda dan Belgia masuk dalam buku panduan pengantar pelajaran sosiologi. Pramudya Ananta Toer yang Pernah Masuk nominasi nobel untuk karya sastra.Mochtar Lubis yang Pernah mendapatkan penghargaan Raymond Magsasay dari Filipina yang buku-bukunya juga dilarang dibaca di Indonesia.

Belum lagi Sitor Situmorang seorang sastrawan yang mendunia yang meninggal di Belanda sebagai pelarian, beliau mendapatkan penghargaan SEA Write Award (Penghargaan Penulis Asia Tenggara) tahun 2006, dan masih banyak lagi penulis dan sastrawan Orde lama yang orang maupun karyanya hilang bak ditelan bumi Indonesia.Pada Masa Suharto memang Generasi muda hanya diarahkan menjadi pemujanya dan menjadi tenaga yang disiapkan sesuai kebutuhan Imperialis untuk menanamkan modal di Indonesia menjadi tenaga ahli untuk menjarah sumber daya alam.Oleh karenanya menjadi tentara atau insinyur menjadi dambaan setiap anak muda selain bisa berkuasa , kaya raya dan dekat dengan kekuasaan tentunya jangan lupa dengan slogan “Isih kepenak Jamanku tho??” .

Ini.adalah kenyataan yang sampai saat ini Kita lihat masih belum banyak perubahan walaupun dengan progam nawacita dan revolusi mental Karena sumber ekonomi dan kesejahteraan masih banyak dikuasai para pengagum Orde Baru . Salam Kedaulatan Rakyat

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed