Soal Nisa Sabyan, Bukan Hanya Urusan Siapa yang Salah

Dari zaman nabi yang namanya kebenaran ya pasti milik masyarakat, kalaupun sampeyan tidak setuju, monggo hijrah ketempat yang sesuai dengan kebenaran menurut hati nurani sampeyan. Bukannya bikin gaduh ingin mengeslamkan yang tidak sepaham.
Rusaknya akhlak-otak tidak bisa dilepaskan dari gelombang radikalisme yang selalu membawa riak-riak free sex. Meskipun berdalih kawin siri,kawin mutah, kawin kontrak dsb. Dalam masyarakat modern apalagi yang muslimnya minoritas maka semua jenis kawin-mawin unofficial dikategorikan no commitent sex. Kumpul bagong…..
Ayus-Nissa dikabarkan telah kawin siri 2 tahun lalu, tanpa sepengetahuan keluarga. Anjay…..
Politisasi selangkangan memang cara paling efektif menjaring jamaah pengajian. Karena hasrat sexual, hasrat biologis paling dasar yang mendorong mamalia berhubungan dengan yang lain. Wong edan-idiot doyan ngesex lho ya.
Pada akhirnya, politisasi selangkangan akan membawa karma pada pelakunya. Otaknya jadi ngeres melulu, pengennya ngewe maning-ngewe maning.
Saya berharap pemerintah memperketat undang-undang perikahan. Kalau cerai karena selingkuh mbok ya hartanya disita buat keluarga kecilnya yang tersakiti.
Biarlah 40 tahun lagi, cerita tentang Kakek Ayus-Nenek Nissa, menjadi kisah sendiri. Entahlah apakah saat itu Nenek Nissa masih menjadi pelakor dan masihkah Kakek Ayus berburu daun muda?
Tetapi saat itu siapa ya yang mau jadi korbannya?
Sumber : Status Facebook Yetti Agustien

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *