by

Slow Living Ala Li Ziqi

Li Ziqi menurut saya adalah seorang tokoh slow living paling penting di dunia saat ini. Slow living adalah kombinasi segala hal baik yang akan banyak menyelamatkan dunia di masa datang. Ia menghargai setiap detil proses, dan menendang jauh gaya hidup serba instant. Gaya hidup kembali ke alam yang di luar sangat membumi, tapi sekaligus sangat berselera dan hari ini. Ia tampak kuno, tetapi justru super modern. Ia kembali tradisional, tetapi sesungguhnya sangat masa depan. Ia melambat tapi justru menyelamatkan. Sebelum jadi seorang vlogger paling berpengaruh baik dan positif. Karena keyakinan saya jelas 90% youtuber hanyalah para rubbish, sampah yang mengejar subscribe dan like. Ia adalah seorang gadis yatim piatu yang sejak kecil hidup melarat diasuh oleh kakek neneknya. Sedemikian miskinnya, hingga ia putus sekolah. Dan berakhir sebagai buruh yang berpindah2 tempat kerja. Tapi ia bukan Cinderella, tak menemukan (dan barangkali tak pernah juga mencari) Sang Pngeran karena ia sepi dari romansa. Ia adalah seorang penyakitan yang gagal hidup di kota. Pengin sembuh dari penyakit kota-nya, lalu pulang kampung ke desanya. Menemani neneknya yang makin uzur dan mulai membuat video kesehariannya.

Kehidupan sehari2nya dengan alam lingkungannya yang mampu ia jangkau. Ia menanam, memetik, memasak. Ia menjadi tukang kayu, merangkai dan memakainya sendir. Tangannya terkadang menjadi sangat kotor karena lumpur, terlalu lembut untuk mememgang cangkul dan parang. Ia sedemikian enteng masuk ke lumpur, memanjat pohon, memegang gergaji dan menyebit tanaman. tangannya canthas baik di kebun maupun di dapur. Ia hadir dimana saja, bukan di tempat yang ramaia dan gemerlap tapi justru sunyi dan sendiri. Seolah seorang putri dari masa lalu yang kesasar hidup di hari ini. Seorang vlogger rupawan paling asyik menurut saya…

Lalu misteriusnya dimana?

Ia bekerja sendirian. Ia menyiapkan seluruh konsep videonya, ia menjadi sutradara, sekaligus menjadi kameramen. Menggunakan kamera SLR-nya, ia dengan piawai mengatur tata letak di atas tripod-nya. Ia memilih kostum sendirian, yang saya pikir di luar tidak membosankan. Tapi selalu cocok, pas dengan tema yang diangkatnya, selalu natural dan tidak pernah sesat gaya. Ia melakukan pengayaan gambar, dengan menampilkan nyaris setiap sudut desanya di Mianyang, Provinsi Sichuan. Ia bergerak dari satu musim ke musim berikut, mengangkat tema sesuai pergerakan alam yang menyertainya. Tidak mengada-ada dan dibuat2. Ia melakukan editing, sebuah pekerjaan sederhana yang jelas membutuhkan kerja esktra cerdas. Dan lalu mengup-loadnya. Dan hasilnya: hingga kini ia memiliki 58 juta subscriber di Weibo dan Youtube. Ia melakukannya seluruh aktivitas tersebut sendiri. Dan hasilnya selalu sempurna. Bukan sekali dua, tapi menyentuh angka ratusan video bila dihitung pertama kali ia melakukannya pertama kali tahun 2016 lalu. Saat ia berusia 26 tahun, oh ya ia kelahiran 1990.

Namun banyak yang tak percaya pada kemampuan dan kerja individualnya. Kenapa? Terlalu bagus dan sempurna untuk seorang yang sangat nothing pada awalnya. Ia tidak saja menjungkir balikkan image China sebagai segala hal yang teknologis dan industrialis. Ia justru sangat kuno, tradisional, dan terlalu agraris. Ia menjadi terlalu mandiri, terlalu cool untuk ukuran seorang perempuan domestik. Ia terlalu cantik, gesit dan berbakat hanya untuk sekedar menjadi teman hidup seorang nenek tua, beberapa ekor anjing lucu, kambing dan unggas2 peliaharaanya. Ia sungguh terlalu….

Bila ada pengagumnya menyebut dirinya sebagai hadiah dari surga. Kok sialnya, saya percaya….

#surgaditelapaktanganLIziqi

Sumber : Status Facebook Andi Setiono Mangoenprasodjo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed