Silent Member Group WA Keluarga

Seringkali ketika mas Irwan, sepupuku yang memiliki kehidupan sederhana sepertiku memposting sesuatu di grup itu maka grup akan hening tak ada yang mengapresiasi, hanya aku seorang yang mereply tiap postingannya. Padahal mas Irwan ini tipe orang yang baik pribadinya, tutur katanya sopan dan seringkali pula mengingatkan hal-hal penuh kebaikan. 

Mungkin karena kemuliaan akhlaknya itu sekalipun dia tak pernah dianggap di grup keluarga dia tak pernah sakit hati walau acapkali dicuekin tak pernah kecewa. Tak pernah berhenti menebar salam, sapa dan manfaat. 

Lain halnya jika yang memposting adalah mereka yang ‘berada’ maka yang lain akan berbondong-bondong mereply dan berbalas komentar dengan begitu renyahnya.

Saat aku menyadari bahwa grup itu memang tak sehat, sebenarnya aku malas tergabung di dalamnya, sebenarnya ingin keluar dari grup tapi  aku sungkan pada mbak Dewi yang tlah membuat dan memasukkan aku kedalamnya. Mas Irwan saja yang seringkali ngga dianggap masih selalu berdamai dengan keadaan dan tak henti menebar salam serta manfaat. 

Realita itu membuatku sadar diri, aku hanya menjadi silent reader disitu. Silent reader dalam artian tidak pernah memposting apa-apa, kecuali mereply kalimat apresiasi pada mereka yang memposting aktifitasnya. Bukan bermaksud bermuka dua, aku hanya berusaha menjaga hubungan sesama anggota keluarga. Bagaimanapun juga mereka adalah keluarga dari ayahku dan aku memiliki kewajiban untuk terus menyambung silaturahmi bersama mereka. 

Pernah suatu ketika aku berkunjung ke rumah Dela sepupuku yang merupakan anak tante Lisa. 
Aku datang mengendarai motor supra bersama istriku dan kedua putriku. Kami menempuh jarak sekitar 3,5 jam perjalanan. Istriku sangat antusias dan senang sampai-sampai semalaman dia begadang membuat pai buah, nastar dan stik keju untuk buah tangan. Ini adalah kali pertama aku dan keluargaku datang berkunjung ke rumah Dela sebab sebelumnya dia tinggal di luar negri baru beberapa bulan ini dia pindah dan menetap disini. 

Rumahnya begitu besar persis istana. Disamping rumah megahnya itu berjajar 3 mobil sedan mewah. 
Sesaat setelah mengetuk pintu seorang wanita muda membukakannya. Ternyata itu pembantu Dela dan dia bertanya siapa kami ini, setelah kami jelaskan bahwa kami sepupu Dela wanita muda itu menyuruh kami menunggu di kursi teras. 

Kami menunggu cukup lama, hampir satu jam. Putri bungsuku hingga merengek tak sabar minta pulang. Aku hibur dia supaya bersabar. Dan akhirnya Dela dan tante Lisa pun keluar. Aku suruh kedua putriku mencium tangan mereka. 

Istriku menjabat tangan mereka sambil mengulurkan tas karton berisi buah tangan yang tlah dia siapkan semalaman, Dela raih tas itu kemudian meletakkannya di samping pot bunga. Tak lama setelah kami mengobrol tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah Dela. Sesaat kemudian Rudi sepupuku anak sulung Om Agus keluar dari dalamnya. Ia tak datang sendiri tapi ditemani istri dan kedua putranya.

Dela dan Tante Lisa menyambut mereka dengan begitu hangat. Memeluk istri Rudi dengan erat dan menciumi kedua putranya. Sejenak Rudi menghampiriku dan kujabat tangannya. Kami mengobrol sebentar sambil berdiri di teras itu. Sementara kulihat tante Lisa dan Dela telah mengajak istri Rudi dan kedua putranya masuk  ke dalam rumah. Kulirik istri dan kedua putriku masih terdiam mematung di kursi teras tanpa ada seorangpun yang mengajak mereka turut serta masuk ke dalam. 

Setelah mengobrol ringan Rudi berpamitan untuk mengambil barang bawaannya dari mobil. Nampaknya dia membawa sebuah parsel berisi coklat mahal dari New Zealand. Dela meraih parsel itu dengan sumringah 

“Duhh kok repot-repot sihh bawain oleh-oleh sebanyak ini.. aduhh ini kesukaan anakku loh… Ayo Mas Rud masuk… Ntar lagi suamiku pulang kok dia masih ada meeting” 

Aku terdiam sambil menatap wajah istriku yang nampak tertunduk penuh kesedihan. Dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya tapi aku bisa menangkap raut kecewa itu. 

Kami menunggu di teras barangkali si tuan rumah lupa bahwa masih ada kami ‘tamu yang lainnya’ yang belum sempat mereka persilahkan untuk masuk. 

Selang 20 menit kemudian nyatanya mereka tak ada keluar. Kami mendengar mereka sedang asyik mengobrol dan tertawa begitu hangat di dalam. 

Akhirnya kami memutuskan untuk berpamitan, saat ada pembantu Dela lewat kami panggil dia untuk menyampaikan kepada majikannya. 

Dela pun keluar sendirian tanpa tante Lisa. Aku pamit kepadanya dan istriku menjabat tangannya. 

Aku starter motor supraku yang terlihat butut itu. Sebuah motor yang rasanya tak pantas terparkir di depan rumah mewah berpilar bak istana. 

Saat kami hendak berlalu pergi dari halaman itu, aku sempatkan melirik dari spion motorku tas karton berwarna coklat dari istriku masih tergeletak di atas lantai samping pot bunga. Sedangkan Dela telah berlalu pergi masuk ke dalam istananya. Aku menghela nafas panjang sambil beristighfar dan berharap semoga Intan istriku tidak melihatnya.

Selang beberapa kilometer dari rumah Dela. Putri bungsuku berkata
“Ayah dedek haus sekali, tadi tante yang punya rumah kok ngga kasih kita minum ya? Apa di rumahnya ngga ada air?” 
Deg.. teriris rasanya dadaku
Bahkan segelas air pun tak mereka suguhkan pada kami yang nyaris 4 jam kepanasan naik motor di perjalanan. 

Akhirnya kutepikan motor bututku di sebuah minimarket. Aku belikan anak-anakku sebotol minuman dingin dan beberapa bungkus snack. 
Saat duduk di depam minimarket tiba-tiba gawaiku bergetar. 
Sebuah pesan WA dilengkapi beberapa foto tertampil di grup keluarga.
Tante Lisa menuliskan

“Ayo yang lain dimana nihh .. di rumah tante ada Rudi lagi nikmatin masakan tante, Dewi, Doni, Indah, Yona pada kemana nih?”
Yang dipanggil hanya mereka yang ‘hebat’ pastinya. 
Aku tutup gawaiku takut jika istriku mengetahui akan hal itu.

Semenjak saat itu aku semakin sadar diri bahwa mengakrabkan diri pada orang-orang yang salah hanya akan membuat dada terasa sesak. 

Adakalanya kita butuh jarak agar tetap bisa bernafas dengan lega. Terkadang kita tidak perlu melihat pemandangan diluar jendela sekalipun pemandangan itu begitu indah.

Aku tidak keluar dari grup WA keluarga  tapi aku nonaktifkan segala pemberitahuan darinya. Agar tak ada lagi celah dalam hatiku untuk merasakan sakit hati. Agar aku lebih menikmati hari-hariku yang indah dengan istri dan kedua putriku tanpa bayang-bayang rendah diri karena berada di tempat yang tak semestinya yakni grup WA keluarga.

Sumber : Status Facebook Septia Dwi Indrasari

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *