by

Sepakbola dan Politik

Oleh : Asnawi Sonodikromo

Perkembangan sepak bola memang tidak bisa lepas dari perkembangan politik dalam negeri. Wajar saja, sebab sepak bola sebagai olah raga yang paling banyak penggemarnya. Sehingga prestasi bidang sepak bola dapat dijadikan sebagai alat promosi untuk menaikkan rating politiknya. Siapapun penguasanya akan berusaha untuk meningkatkan prestasi olah raga bidang sepakbola.Imbasnya juga berlaku sebaliknya. Penguasa sekarang pasti berusaha menghapus prestasi penguasa terdahulu. Atau menghapus jejak rintisan prestasinya.

Maksud penguasa inipun juga bertingkat tingkat. Mulai dari penguasa pssi, menpora, hingga presiden. Memang diantara kita masih minim akan kesadaran untuk menghargai jerih payah generasi terdahulu. Yang ada malah generasi baru akan mencari cara untuk membully generasi terdahulu. Imbasnya juga berlaku sebaliknya. Bagi generasi sekarang, akan melakukan pembumihangusan atau pembuangan arsip data sehingga generasi mendatang akan melangkah dari angka nol lagi. Tidak ada jejak untulk dijadikan pijakan supaya bisa melangkah cepat. Dari sini kita bisa sedikit paham, tentang mengapa prestasi sepakbola atau bidang yang lain sangat lamban sekali bahkan bisa saja malah mundur ke belakang.

Saya uraikan satu contoh. Pada tahun 2018, timnas kita dilatih oleh Luis Milla dgn menporanya imam Nahrowi. Untuk menuju permainan terbaik, kita diajak untuk bersabar menunggu prosesnya. Kalah terus selama dua tahun. Saya waktu itu sampai geregetan. Tapi kita berbunga bunga menyaksikan betapa enerjiknya timnas yg berlaga di asian games tahun 2018. Bersama deretan anak mudanya, luis milla mampu menyuguhkan permainan yg membuat kita bangga pada timnas.

Namun selepas perhelatan itu, posisi nahrowi mulai goyah, beriringan pula dgn posisi luis milla sebagai pelatih timnas. Akhirnya fakta politik berbicara, LM digantikan oleh STY. Anak anak muda yg digodok oleh LM dihilangkan semua. Tersisa Evan Dimas saja karena anak emasnya Indra Syafri. Kita pun akhirnya dipaksa lagi untuk bersabar lagi menunggu proses terbentuknya prestasi apik dari tangan dingin STY. Maka mubadzirlah apa yang pernah dirintis dan diupayakan oleh LM dengan Imam Nahrowi sebagai bosnya.

Padahal 3 tahun lagi akan ada pergantian menpora dan presiden. Sudah hampir dipastikan STY juga akan diganti bila menpora dan presidennya diganti.Tolok ukur kinerja Luis Milla, yang berhasil meracik timnas secara apik butuh waktu 2 tahun, STY akan butuh waktu minimal 2 tahun juga. Bahkan mungkin lebih karena harus menfhadapi masa pandemi. Dengan demikian prestasi mengkilap hanya akan kita nikmati pada pertengahan tahun 2023. Setelah pilpres akan tenggelam lagi karena akan ada pergantian penguasa baru.

Sumber : Status Facebook Asnawi Sonodikromo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed