by

Seni Sebagai gaya Hidup

Anak ini masih sangat remaja, namun mempunyai talenta dan daya kreatif yang keren. Bisa bermain gitar, mencipta lagu. Memainkan komposisi musik klasik yang berat-berat dan njelimet dengan piano. Lulus SMA dia lari dari orangtuanya di Jakarta. Menggelandang hingga Yogyakarta.

Ayahnya ingin dia jadi dokter, sementara dia tidak. Ia lulus test di perguruan tinggi Australia. Hanya untuk membuktikan pada ayahnya dia tidak bodoh. Di dunia akademi seni, ia diterima di ITB dengan test pula. Kedua hal itu tak dipilihnya. Ia milih kabur.

Selama menggelandang, ia bertemu dengan generasi seusia. Berkarya dan bertualang. Ia banyak melukis, juga drawing. Lukisannya, cat minyak di atas kanvas berukuran besar. Dan makin gila melukis setelah diterima di salah satu kampus seni pilihannya.

Di kampus, ia menyadari harus kompromi. Meski saya senang juga mendengar dia menyebut beberapa nama dosen yang saya kenal, dan saya kira mereka para pengajar yang baik. Anak itu sudah mulai agak ‘jinak’, mulai lebih proporsional. 

Suatu saat bertemu dengannya, setelah setahunan, saya ingin tahu komentar tentang dunia barunya. Omongannya sangat mengejutkan; dia bilang banyak teman seangkatannya condong menggeluti seni rupa kontemporer namun lebih sebagai life-style.

Pantesan anak ini otaknya encer. Dia bukan hanya berpendapat mengenai yang dilihat. Dia menyimpulkan sesuatu yang dirasa. Itu kualitas proses berfikir tentu. Belum tentu para ‘buruh’ atau ‘pekerja’ seni yang kita kenal, sampai pada penilaian itu. Kepekaan seseorang, bukan berkait umur, apalagi bakat. Proses kehidupannya, termasuk integritasnya, membangun intelijensianya. 

Mengenai Danais sebagai awal tulisan ini? Tak ada hubungannya. Saya lebih ingin bercerita prototype seniman, atau kehidupan mereka. Sebagai intro, saya mulai dari pandangan seorang yang masih remaja tadi. Sebuah perbandingan menarik, meski saya harus hati-hati menuliskan. 

Tapi mungkin tulisan ini akan agak panjang, dan bersambung. Atau mungkin juga cuma satu ini doang. Karena ngeri-ngeri sedap.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed