by

Semua Gara-Gara Jokowi

Ketika mengajak Prabowo masuk koalisi, bikin poyang-payingan dan seolah isi dunia ambyar. Apakah kita siap? Kesiapan hanya bagi yang sukses melakukan transformasi dirinya. Bahkan, pada titik ini dalam sejarah, transformasi paling radikal, meresap, dan mengguncang bumi, akan terjadi hanya jika setiap orang benar-benar berevolusi menjadi ego yang matang, rasional, dan bertanggung jawab. Tentu juga, karena keyakinan. Sebagaimana nasihat Gus Dur, “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk terhadap kenyataan, asalkan yakin di jalan yang benar, maka lanjutkan.” 

Pada sisi lain, kita tak bisa pula berharap Presiden sebagai aktivis, atau negarawan sekaligus. Namun bagaimana pun, Presiden adalah politisi terbaik sehingga berada di jabatan tertinggi. Apa yang dilakukan Jokowi, dalam situasi transisi dan politik elit ini, ialah bersiasat, dan sebagiannya adalah kompromi. Belajar dari kegagalan Gus Dur, Jokowi berkelit di antara kelindan begitu banyak agenda oligarkis dan elite. Sluman-slumun-slamat yang bersliweran sekitar istana.

Pesan pidato Jokowi jelas. Termasuk ketika berani menyusupkan Prabowo dalam kabinetnya. Menjadikan mantan petinggi militer sebagai Menteri Agama. Memunculkan pengusaha gojek jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dan kita kemudian melihat bagaimana riuhnya pro-kontra di medsos. Yang ahli dan awam, sama-sama ribut. 

Dari sini, Jokowi sukses mengguncang-guncang isi kepala kita. Jokowi sukses memecah lapisan pertama batu es. The President is shaking things up. Kalau pemerintahan Jokowi adem ayem, pasti ada yang salah. Ramainya gejolak karena ia sedang mengguncang. 

Bukan hanya mendengar, Jokowi pemimpin yang juga melihat. Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat, sebagai kata Jalaluddin Rumi. Karena pemimpin yang efektif, kata Peter F. Drucker, bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya. Effective leadership is not about making speeches or being liked; leadership is defined by results not attributes.

Sementara yang berubah pada “kita”? Jika dulu kaum nyinyir Jokowi disebut kampreters, sekarang mungkin gantian para ningrat. Bisa berjudul SJW, kaum intelektual, mereka yang berada dalam comfortable zone, atau para penggiat media mainstream yang tergeser. Diakui atau tidak, semua gara-gara Jokowi. 

 

(Sunardian Wirodono)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed