by

Semua akan Busuk pada Waktunya

Oleh: Sunardian Wirodono

Semua akan busuk pada waktunya. Apapun. Siapapun. Kapanpun. Termasuk mungkin para pembohong. Juga penista. Apalagi pendusta, dan koruptor.Meski pun mungkin tak menemukan hidup sebagaimana yang kita idealkan. Ketika diciptakan banteng, dengan tubuh dan tanduk seperti itu, di sisi lain ada singa yang dibuat dengan konstruksi tubuh lebih aero-dynamic. Dengan cakar dan gigi tajam, serta kelenturan tubuh.

Serta mungkin kemampuan menghindar, yang membuat tajamnya tanduk banteng tak berarti.Dibutuhkan proses waktu panjang, meski tetap saja ketidakbaikan atau keburukan akan menjadi nilai abadi. Karena itulah hukum semesta, yang justeru tumbuh karena ying dan yang. Interaksi positif dan negatif. Demikian ilmu pengetahuan berkembang, juga teknologi, dan nilai-nilai peradaban tumbuh.Kini kita masuk dalam dunia digital, generasi 4.0., meski dalam ketidaksiapan.

Ada yang pinter, banyak yang bodo. Ada orang baik, tapi ada sedikit orang pinter bisa ngibulin banyak orang bodo. Selalu begitu. Berapa banyak agama telah membuat orang berani menipu, memaki, menista, berdusta, cari pujian, poligami, berbunuh? Demikian juga pendidikan, politik, hukum, iptek, fesbuk, youtube, IG, WAG. Semua hal. Dan kita bisa frustrasi. Kayak nggak ada yang baik. Tentu saja ada. Cuma kebaikan sering tidak menarik diceritakan, juga dilakukan. Kesalahannya, keburukan hanya lebih sering dituliskan di Kitab Suci.

Tetapi yakinilah, kebaikan itu ada. Mboksumpih!Lantas mesti bagaimana hidup? Frustrasi? Putus asa? Cuek bebek? Cari duit saja, dan bersenang-senang? Yang susah biar susah? Bukankah Atta Halilintar, juga Andre Tulany telah bekerja keras dan menderita untuk kesenangannya? Dengan begitu, mereka telah berhak pamer kekayaan? Tak peduli perasaan orang lain? Bukankah mereka sudah mencipta lapangan pekerjaan? Dan mencontohkan nikmatnya hasil orang kerja keras?

Kehidupan pasti akan mencari jalan kesempurnaan, meski mungkin kesannya garis melingkar. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi, pada dasarnya perlahan mengajarkan soal garbage in garbage out. Dari dulu ajaran nenek moyang juga demikian. Tapi dasar manusia, ada yang bisa mengembangkan teknik encoding, sehingga algoritma nilai tidak bisa jalan. Hanya soal angka doang.

Karena tetap saja persoalannya kesenjangan. Dan celakanya, konon tuhan tidak akan mencipta makhluk hidup itu sama jenis, volume, format atau bentuknya, jenisnya. Juga kapasitas serta ketangkasan otaknya. Bukankah kata Bang Napi, kejahatan muncul karena terbukanya peluang? Bukan karena terbukanya celana ‘kan? Kan!Pada celah itulah, mau hewan, tumbuhan, atau manusia, akan bermain.

Persoalan kita cuma bermain dengan dan untuk apa? Ada yang jalur eksploitasi. Ada jalur eksplorasi. Tinggal dipili-dipili-dipili, sesuai ajaran dan ilmu yang diterima dan tertanam baik di jiwa, meski hanya sebiji sesawi. Dan ketika pandemi Covid-19 datang, kita hanya sampai pada sekolah daring. Itu pun tidak jelas apa penjelasannya. Jadi mari belajar mandiri, sesuai tingkat dan keyakinan masing-masing.

Karena mengenali diri-sendiri, dan meyakininya, bukan perkara mudah. Kalau mudah, ngapain jadi perkara? Perlu latihan. Agar dengan demikian, jika mendengar omongan dari Tengkuzul, Rocky Gerung, Yahya Waloni, Rizal Ramli, Natalius Pigai, Amin Rais, Andre Taulany, Said Didu, Atta Halilintar, Jozeph Paul Zhang Reffly Harun, Rizieq Shihab, Abdullah Hehamahua, Sunardian; berdoa saja yang bener, untuk dikuatkan nalar dan iman kita.

Semua akan busuk pada waktunya. Cuma sambil menunggu semua busuk pada waktunya, semestinya engkau janganlah membusuk terlebih dulu. Apalagi mempercepat pembusukan diri-sendiri dengan bercampur-rupa pada yang busuk. Bacalah doa Chairil Anwar, agar bisa berdoa sambil ndhepaplang. Berdoa mulai.

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed