by

Self Made Man

Oleh : Nana Padmosaputro

Dia presiden Republik Indonesia.

Beragama Islam.

Insinyur Kehutanan UGM

Istri 1.Anak 3.

Masa kecilnya miskin.

Dia membangun dirinya sendiri sampai menjadi pengusaha ekspor meubel kayu.Tak banyak orang yang mampu menjadi self-made man. Melakukan lompatan kuantum, dari anak orang miskin yang rumahnya digusur melulu, sampai jadi pengusaha yang memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dan memiliki rumah megah sampai menjadi presiden, karir tertinggi yang bisa diraih orang di negeri ini!*

Kamu mampu..? Aku tidak.

Betapa pun aku seorang pekerja keras, aku bukan self-made man. Aku tidak mulai dari nol. Aku datang dari keluarga berada. Perutku selalu kenyang. Tidurku selalu di kasur empuk. Kebutuhan dasarku untuk baju, sepatu, buku, seragam dan uang sekolah selalu terjamin. Ayahku yang kunilai hebat karena karirnya tinggi itu pun bukan self-made man. Dia tidak mulai dari nol. Dia lahir dari keluarga pedagang dan petani yang mampu memberikannya buku bacaan dan mainan, kendati mereka hidup di jaman perang kemerdekaan. Nenekku yang buta huruf, namun feminis dan visioner itupun bukan self-made man. Dia lahir dari seorang lelaki yang futuristik, yang membimbingnya menjadi pembuat dan pedagang minyak goreng, sejak nenekku masih gadis bau kencur umur 9-10 tahun.

Ayahnya, rakyat jelata (juga buta huruf, karena sistem feodal dan penjajahan jaman itu, tidak membolehkan rakyat biasa bersekolah) yang memerdekakan anak-anaknya dari kewajiban menikah muda inilah, yang self-made man. Dialah PELOPOR kemajuan di keluarga kami. Pola pikir maju dan memberdayakan ekonomi keluarga, yang lantas diwariskan turun-temurun. Kamu bayangkanlah, jika kamu adalah seorang lelaki tak berpendidikan, tinggal di dusun, yang hidup di tahun 1890-an…. bisakah kamu memiliki pandangan serevolusioner ini : anak-anakku harus bisa mandiri semua, tanpa tergantung orang lain, termasuk anak-anak perempuanku.

Jadi kalau menantu lelakiku mati atau menyia-nyiakan anak perempuanku… cucuku nggak kapiran. Karena ibu mereka mampu menghadapi hidup. Coba cek di sekitarmu. Berapa banyak ortu yang meskipun hidup di tahun 2021… namun memiliki pemikiran yang futuristik…? Aku kasih tahu ya… Cuma orang pilihan Tuhan yang mampu jadi self-made man. Kenapa? Karena mereka ini, pertama-tama, harus menghadapi dan menyelesaikan dulu trauma kemiskinannya.

INFERIORITY itu bukan hal sepele untuk dilawan! Kedua, mereka harus menghadapi cocotan, nyinyiran dan tertawaan jutaan mediocre di sekitarnya. Percayalah kaum ‘small minds’ itu rabun-visi, tapi caranya menghakimi… wuiiih kayak orang yang sudah khatam kehidupan. Sampai ada pepatah yang mengatakan : kaum jenius itu selalu ditertawakan oleh orang sejamannya… namun akan dikagumi oleh orang di jaman depannya. Ketiga, mereka harus mendidik dirinya sendiri, karena tidak ada mentor tersedia di sekitar pekarangan rumah, dan lingkungan sekolah. Memang miris, jika guru yang openminded dan futuristik juga langka.********

Jadi saranku ya…kalau kamu belum mampu menyembuhkan traumamu sendiri, belum mampu mengabaikan ‘apa kata orang’ dan belum bisa mendidik dirimu sendiri… mingkem dululah. Bikin bagus dirimu dulu. Baru deh, pantes kalau mau nyacat dan maido* orang lain… Meskipun ya, orang yang hebat beneran biasanya nggak pernah PUNYA KEBUTUHAN PSIKOLOGIS untuk merendahkan orang lain…. Sekian dan terima kasih. Nana Padmosaputro

Note * Betul, tidak 100% dia membangun dirinya. Ada ayahnya yang menopang dia di biaya pendidikan. **maido, bahasa jawa. Artinya menegasi. Mengecilkan. Mencela. Atau meng’halah-halah’. Misalnya : halaaah, cuma begitu aja…

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed