Sejarah Koin Dinar, Dirham dan Fulus

Bagaimana dengan “dinar”? Kata Arab “dinar” berasal dari kata Syriac “dinara” yang berasal dari Yunani “denarion” yang asalnya dari Latin “denarius”. Imperium Romawi Kuno dulu menggunakan “denarius” (koin perak) sebagai mata uang resmi.
Sebagaimana koin dirham, koin dinar – baik yang koin emas maupun perak – juga dipakai oleh berbagai peradaban manusia, bukan melulu Muslim Timur Tengah. Imperium Kushan dulu memperkenalkan “dinara” (koin emas) ke India di abad ke-1 M.
Dalam sejarah Imperium Islam di Timur Tengah, pemakaian nama dinar (dalam bentuk koin emas) diperkenalkan secara resmi pertama kali oleh Raja Abdul Malik bin Marwan (dari Dinasti Umayyah) di akhir abd ke-7 M.
Tetapi Abdul Malik bukan orang pertama yang memperkenalkan secara resmi mata uang koin. Sebelumnya, Khalifah Umar dan Usman juga mengeluarkan secara resmi mata uang koin (emas/perak). Kelak, para raja dinasti Islam dari Umayah, Abbasiyah, Andalusiyah, Ayub, Saljuk, Turki Usmani dlsb berlomba-lomba mencetak koin dirham & dinar (dan nama lainnya) didesain sesuai dengan “selera” penguasa.
Lalu apa yang membedakan antara koin dirham & dinar (emas maupun perak) yang dipakai di kalangan umat Islam klasik-pertengahan dengan masyarakan non-Muslim? Yang membedakan adalah “desain”-nya. Kalau umat Islam biasanya ada tulisan kalimat tauhid (“La ilaha illa Allah”) plus kalimat lain sesuai selera penguasa. Sedangkan koin dirham/dinar di kalangan masyarakat non-Muslim dulu gambarnya cem-macem sesuai selera penguasa juga. Sama seperti mata uang kertas kontemporer yang desain dan gambarnya juga beraneka ragam.
Sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika yang mata uangnya memakai nama “dinar” (tapi dalam bentuk uang kertas) adalah Kuwait, Bahrain, Yordania, Irak, Aljazair, Tunisia, dan Sudan. Mata uang Serbia juga dinar. Sementara mata uang Arab Saudi dan Qatar adalah riyal.
***
Jadi jelaslah bahwa, seperti hijab dan gamis yang tidak melulu dipakai oleh umat Islam, koin dirham dan dinar pun begitu. Berbagai bangsa dan pengikut agama (termasuk Kristen Nestorian, Ortodoks Yunani, Yahudi dan lainnya) dulu juga menggunakan koin (emas/perak) bernama dirham dan dinar (dan juga lainnya) sebagai alat pembayaran/transaksi. Karena itu, umat Islam tak perlu “memonopoli” dan “mengaku-aku” koin dirham dan dinar. Nanti malah malu-maluin.
Kemudian kalau “fulus” asalnya dari mana? “Fulus” adalah kata jamak (plural) dari “fals” yang arti asalnya adalah “koin tembaga”. Kata ini berasal dari akar kata “follis”, yaitu mata uang koin tembaga yang dulu dipakai oleh Kekaisaran Romawi dan Byzantium.
Seperti koin emas/perak dinar dan dirham, koin fulus dulu perkenalkan secara resmi pemakaiannya di masa Dinasti Umayah. Biasanya koin fulus ini dipakai untuk alat beli/transaksi barang-barang yang lumayan murah. Kelak, kata “fulus” kemudian diserap ke dalam bahasa Melayu dan diberi arti baru: “uang” (kertas).
Sekarang kalau kata “rupiah”? Kalau kata “rupiah” berasal dari Sansekerta “rupya”, sebutan atau nama untuk koin perak. Dalam Sansekerta, kata “rupya” ini berasal akar kata “rupa” yang berarti “elok, cantik” dan kemudian menjadi “rupawan”. Jadi kalimat, “Wajahmu sangat rupawan sekali” itu sebetulnya sama dengan kalimat: “Wajahmu sangat rupiah sekali”.
Demikian “kuliah Sabbat” hari ini. Semoga bermanfaat. Salam, Syalom, Haleluya. Rahayu slamet Kang Bagong…
Sumber : Status facebook Sumanto Al Qurtuby

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *