by

Sejak April 2016 Nyemen Kaki dan Berdemo Jalan Kaki, Nggak Kerja?

Tiga investor asing ini, Holcim, Indocement, Andalas, sudah hampir menguasai produksi semen di Indonesia. Mereka terus berekspansi meningkatkan kapasitasnya.

Dengan kenyataan inilah kemudian pemerintah membuat Holding Company bernama PT Semen Indonesia, yang kemudian membawahi Semen Gresik, Semen Padang dan Semen Tanosa sebagai anak perusahaannya. Harapannya, dengan digabungnya perusahaan lokal tersebut, nantinya dapat menekan pabrik-pabrik asing yang mulai menguasai Indonesia.

Langkah pemerintah pun tak main-main, Semen Indonesia membangun pabrik semen modern dan canggih di atas tanah seluas 530 hektare. Pembangunan ini dimulai sejak tahun 2014 dan awalnya ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2016, dan 2017 sudah bisa produksi secara komersial.

Tapi kemudian upaya pemerintah ini mendapat penolakan (seolah-olah) dari warganya sendiri. Sejak April tahun 2016, sudah ada kelompok pendemo yang menyemen kakinya di depan istana. Saat itu Semen Indonesia baru saja selesai membangun dan dinyatakan siap beroperasi.

Rupanya, penolakan dengan cara demo menyemen kaki ini berlangsung sampai tiga hari yang lalu, dan akhirnya memakan korban meninggal atas nama Bu Patmi. Sepanjang tahun mereka berdemo menolak Semen Indonesia. Sepanjang tahun pula mereka tak perlu bekerja, sebab hampir setiap hari hanya berdemo saja. Kelompok ini juga pernah berjalan kaki sepanjang 150 Km untuk berdemo, dari Rembang ke Semarang, ditempuh lebih dari 10 hari.

 

Pemerintah harus bertindak keras

Kenyataan ini sudah diketahui oleh banyak orang, termasuk orang-orang di pemerintahan. Demonstrasi itu hanya soal politik dan bisnis, sama sekali bukan urusan kepedulian pada lingkungan. Alasan-alasan kerusakan lingkungan, sekali lagi hanyalah alat pembenaran untuk mendapat simpati publik.

Sepanjang tahun, dari April 2016 dan sekarang sudah Maret 2017, kelompok demonstran nyemen kaki itu kerjanya hanya nyemen kaki dan demo. Ini harus ditindak secara ekstrim melalui pendekatan ekonomi. Sebab mereka berdemo juga karena alasan ekonomi. Tidak akan ada orang yang bisa berdemo sepanjang tahun dan tidak bekerja. Mau diberi makan apa anak istrinya? Kalaupun perempuan dan ibu-ibu, apa iya mau meninggalkan suami dan anaknya sepanjang tahun? Apa iya tak ada motifnya? Sementara persoalan kerusakan lingkungan sudah dijelaskan melalui sosialisasi terbuka. Apa iya ada orang yang tidak paham-paham meski sudah dijelaskan?

Untuk itu, saya pikir sudah saatnya pemerintah bertindak tegas. Kita sudah sama-sama tahu siapa setannya. Tapi menyerang mereka secara terbuka, menyalahkan dan menuduh mereka sebagai dalang bisa jadi bumerang. Jadi, seharusnya pemerintah balik “buat susah” kelompok-kelompok tersebut dengan aturan-aturan baru yang memberatkan perusahaan asing. Kalau perlu, dibuat supaya mereka tidak betah di Indonesia. Tujuannya supaya mereka juga ikut pusing dengan masalahnya, supaya tidak sempat memikirkan penolakan terhadap BUMN Semen Indonesia. Sebab kalau mereka dalam posisi nyaman, regulasi baik, yang mereka pikirkan hanyalah persaingan bisnis. Berpikir supaya pesaingnya tidak berkembang. Salah satunya ya dengan pengerahan massa, penolakan terhadap pabrik semen pesaing dengan alasan kerusakan lingkungan.

Begitulah kura-kura. **

Sumber : Facebook Alifurahman S Asyari

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed