by

Saya Lebih Syar’i Daripada Bank Syariah

Sistim penggajian di kantor saya kerja diubah. Dari ‘cash’ menjadi lewat bank. Karena bank mereka jauh, atm-nya ndak banyak, maka saya pilih bank yang ‘satu grup’ dengan perusahaan saya.

Gaji pas-pas-an. Ndak mungkin ‘sisa’ gaji saya setor pada dua bank. Akhirnya urusan nabung di bank syariah macet juga. Nabung bukan nyicil utang.

Bertahun kemudian, saya datang ke salah satu kantor bank syariah itu. Sekarang banyak. Ada cabang, dahan, ranting, daun, . . . Pokoknya ada dimana-mana . .

Eh ! Ternyata tabungan saya sudah ditutup ‘by system, automatically’. Waktu dia tawari untuk buka rekening baru, saya nggondhog sekali. Itu nomer rekening ‘bersejarah’, wong pelanggan pertama.

Ndak itu saja. Sisa tabungan saya ‘dirampok’ juga. Memang cuma 170 ribu. Tapi saya katakan ke CS-nya, bukankah uang itu jelas pemilik-nya, Saya. Kenapa ndak diberitahu dulu. Dikirimi surat ? Alamat lengkap ada kok !

Wong ‘nemu’ barang di jalan saja, butuh di-umum-kan dulu, selama berapa hari, kalau mau di’êmbat’. Jawaban dia balik lagi, sistim . . .

Sistim ‘kafir’ dan ‘yahudi’ yang ndak ‘islami’, dan ndak mereka sukai bahkan dibenci kok diturut, diikuti . . .

Juancooook . . . !

Itu beberapa contoh bahwa kami, saya dan Nyonya, lebih ‘syarngiah’ dari bank syariah. Bahkan dari sekelompok kaum ‘syarngiah’ . . .

Tapi ada yang komen belum ‘kaffah’, gara2 ‘nafsu’ lihat rambut Nyonya yang diurai, ndak ditutup jilbab. Bahkan saya pun, dulu, disebut ‘Pendusta agama’ oleh seorang ngustat, gara2 debat perkara ‘Ahok’ . . .

Ndak papa dan gak ngurus. Yang jelas kami meski ndak tampil ‘syarngi’, ndak pernah nyolong duit ‘saudara’. Termasuk duit tabungan umroh dan haji mereka. Tipu-tipu gitu . .

Sekali lagi, gak ngurus !
Sekali Juancukan tetap Juancukan !

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed