by

Savety

Sejauh pengalaman saya di sana, ada dua isu penting terkait keselamatan operator yang sebagian besar perempuan. Pertama, rambut. Sedapat mungkin pendek atau jika panjang, harus digelung dan diikat erat. Mengapa demikian? Kasus kecelakaan rambut tergulung mesin hingga kulit kepala terkelupas, bukan cerita baru di industri tekstil. Dampaknya sangat parah bagi korban, cacat seumur hidup.

Kedua, pakaian. Sedari mula kami sadar, bahwa jilbab sangat rawan digunakan di ruang produksi yang penuh dengan mesin2 terbuka, terlebih jilbab lebar panjang. Jika sampai tersambar dan terlilit putaran mesin, bisa berakibat sangat fatal bagi pemakainya. Karena itulah kami menerapkan aturan ketat soal pemakaian jilbab di ruang produksi. Sila pakai, namun harus diamankan sedemikian rupa sehingga melekat di pakaian, tidak pathing klewer kian kemari.

Protes? Tentu saja ada. Beberapa kali ada karyawan yang menghadap memprotes kebijakan itu atas nama keyakinan. Ada pula pimpinan lapangan yang tampil ke depan, berbicara mewakili kawan2nya. Namun saya tetap tidak bergeming.

Safety first.

Terus terang saya katakan kepadanya, jika sampai terjadi kecelakaan kerja sehingga korban tewas karenanya, terlepas dari keyakinan mereka jika ybs masuk surga karena mempertahankan keyakinan; kami unsur pimpinan perusahaan tetap harus mempertanggungjawabkan kematiannya di hadapan hukum dunia. Negara akan menuntut kami secara pidana, atas tuduhan melakukan kelalaian atau pembiaran yang mengakibatkan kematian orang lain.

Di ujung pembicaraan selalu saya tawarkan, apakah mereka mau mengambil alih tanggungjawab itu? Jika bersedia, mari kita bikin pernyataan bersama. Bagaimana tanggapan mereka? Bisa diduga. Klunuk-klunuk angkat tangan, kemudian balik kanan tanpa menoleh lagi.

Jadi tampak jelas bukan? Pekerjaan paling gampang itu bengak-bengok protas-protes menuntut perubahan tentang segala hal, selama tanggungjawab atas risiko perubahan itu ada di tangan orang lain. Namun lain ceritanya jika ybs. diminta mengambil alih risikonya.

Langsung mejen.

Bandara Soekarno – Hatta, 10 Oktober 2018

(Sumber: Facebook Haryoko R. Wirjosoetomo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed