by

Saudi Sudah Lama Berubah

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Tahun 2012 saya dapat kesempatan mengunjungi Saudi Arabia (SA). Ceritanya umroh tapi dibarengi dengan kunjungan ke beberapa tempat. Diajak ke Universitas Madinah, lalu ke perusahaan percetakaan quran. Semua karyawan, dosen dan pejabat laki-laki, alias nggak ada karyawati. Baik di Universitas maupun di percetakan Quran itu. Saya merasakan ‘kekeringan’ di situ. Suasana kerja yang menurut saya tidak alami, bahkan tidak manusiawi. Kali lain di Mekah saya ramai-ramai ke pasar untuk mencari oleh-oleh. Di situ juga tidak ada perempuan. Pedang semua. Tidak menyangka, ada pelayan toko yang iseng megang-megang maaf bokong saya. (jijik kan?).

Menurut saya itu akibat pemisahan makhluk laki dan perempuan yang begitu ketat, terjadi perilaku yang menyimpang. Tapi saya tidak akan mengupas perilaku menyimpang itu. Saya justru tertarik pada liberalisasi Saudi Arabia (SA). Belum lama ini diadakan Riyadh Season Festival. Pertunjukkan seni bertebaran di beberapa area. Ada penyanyi rap US yang diundang, Pitbul. Masyarakat SA tumpah ruah di tempat festival. Mereka berjoget, bergoyang, bernyanyi. Seakan mereka memasuki surga yang selama ini tidak pernah dirasakan. Mereka seperti keluar dari kekangan, jeratan, penjara fisik dan jiwa selama puluhan atau mungkin ratusan tahun.

Di Pantai dekat Riyadh dibuka pantai wisata yang pasangan boleh masuk, boleh bercumbu atau bermesraan tanpa otoritas SA tahu mereka pasangan menikah atau bukan. Para wanita boleh memakai bikini ketika berjemur atau mandi. Kaum perempuan boleh nyetir mobil tanpa didampingi muhrim, mereka boleh nonton film di bioskop tanpa muhrim. Itu contoh apa yang dilakukan SA dalam rangka liberalisasi pasca jatuhnya harga minyak. SA sadar minyak tidak bisa diandalkan. Pemasukan dari Haji dan Umroh harus digenjot sebagai sumber devisa. Biaya visa bisa dinaikkan. Pemasukan dari wisata harus dinaikkan. Tanpa itu masa depan SA akan gelap dalam bidang ekonomi.

SA berusaha meniru Barat karena ingin maju. Mereka harus berubah. Lalu bagaimana dengan dasar quran dan hadist yang menjadi konstitusi?Dua hal itu bisa ditafsir ulang, bisa diinterpretasikan dengan cara yang berbeda agar bisa ‘mengikuti’ perkembangan jaman. SA butuh bertahan dalam konstelasi dunia baru.**Di sini budaya lokal, budaya tradisional mulai tergerus. Banyak yang suka budaya Barat, Korea dan juga Arab. Orang Rusia, Inggris atau Perancis ada yang rajin berlatih gamelan sambil ura-ura (bersenandung tembang jawa). Mereka berusaha mempelajari kerawitan Jawa dengan begitu seriusnya lengkap dengan cara berpakaian ala Jawa. Orang kita tidak sedikit yang persis Arab dalam berpakaian dan berbahasa, kecuali jenggot dan hidungnya.

Sekolah-sekolah seni jurusan pedalangan atau kerawitan minim peminat. Pesantren tahfiz berkembang dimana-mana dan ortu ramai-ramai mengirim anaknya ke sana. Ada juga orang kita yang suka budaya Barat dan Korea. Akulturasi budaya tidak terhindarkan dan itu hal yang wajar. Yang membedakan satu: budaya Barat atau Korea masuk lewat seni, teknologi atau pendidikan. Budaya Arab masuk lewat ajaran agama dan yang sering terjadi menyertakan ancaman dosa dan siksaan. Budaya Barat dan Korea diminati dengan kerelaan, karena suka dan nyaman. Budaya Arab masuk dan diterima karena iming2 pahala dan ancaman dosa. Saya yakin pasti akan ada argumen ‘itu bukan budaya tapi ajaran’. Tapi kita sering tidak bisa membedakan mana ajaran yang bersifat prinsipil dan budaya yang sifatnya aksesories. kelak generasi muda akan menyadari itu.

Saudi Arabia yang jadi kiblat umat Islam pelan-pelan meninggalkan ‘ajaran’nya dan mengganti dengan ajaran yang lebih modern. Beberapa dari kita bersikeras itu ajaran Tuhan dan harus diikuti seperti abad 7.salam rahayu…

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed