by

Satu Lagi Kasus Proyek Warisan SBY

Oleh: Erizeli Bandaro

Meneg BUMN mengindikasikan terjadinya korupsi pada proyek mangkrak yang dikerjakan oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) di masa lampau yang membuat perseroan menumpuk utang hingga US$2 miliar. Erick menyebut Krakatau steel punya utang US$2 miliar atau setara Rp31 triliun yang salah satunya berupa investasi US$850 juta kepada proyek blast furnace atau pengolahan bijih besi.

Proyek Pabrik Blast furnace dibangun di plant site KRAS, di kawasan industri Krakatau Steel Cilegon, Banten. Digagas tahun 2008 oleh SBY dan rencana selesai tahun 2013. Blast furnace complex d. Proyek ini terdiri dari tiga pabrik utama, yaitu sintering plant berkapasitas produksi 1,78 juta ton per tahun. Lalu, coke oven plant berkapasitas 500.000 ton per tahun, dan blast furnace plant dengan kapasitas 1,2 juta ton per tahun.

Yang jadi masalah adalah pendirian pabrik Blast furnace itu akhirnya mangkrak. Karena tidak didukung oleh Sintering plant yang berfungsi menghasilkan bahan baku iron ore fines, return fines , dan flux untuk blast furnace. Sedangkan, coke oven plant menghasilkan bahan bakar kokas (coke) untuk blast furnace, serta mereduksi bijih besi.

Era Jokowi, periode pertama, proyek sempat beroperasi 6 bulan dan stuck. Karena kalau diteruskan harga pokok produksi slab yang dihasilkan dari fasilitas blast furnace diklaim lebih mahal US$82 per ton dari harga pasar. KRAS akan rugi terus. Gimana Solusinya ? Oleh Eric langkah pertama, restrukturisasi dengan membentuk subholding kawasan industri Blust Furnace

Artinya kawasan komplek Blast furnace di keluarkan dari neraca KRAS dengan mengalihkan pos anggaran pada proyek itu dalam beberapa anak perusahaan, yang bergerak bidang pengelolaan kawasan industri, pemenuhan kebutuhan air, land developement, pembangkit listrik. Sehingga neraca KRAS jadi bersih. Perhitungan pendapatan tidak dibebani oleh ongkos investasi. Makanya KRAS bisa untung tahun lalu.

Langkah kedua, adalah mengusut kasus ini siapa saja yang terlibat sehingga proyek ini mangkrak dan berpotensi merugikan negara Rp. 31 triliun. Sampai sekarang belum ada pihak yang dipanggil oleh kejaksaan atau KPK. Padahal proyek segede gaban itu engga sulit tahu siapa yang bermain. Tinggal lihat daftar kontraktor nya dan rekanannya. Semoga proyek ini tidak selesai karena di-restruktur secara akuntasi dan kompromi politik seperti kasus PCR, Formula E.


(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed