by

Sandyakalaning SBY

Tahun 2014, SBY “lengser keprabon” digantikan oleh Jokowi. Ini awal bintang SBY yang memang sudah mulai meredup semakin tambah “mbleret” seperti obor yang kehabisan minyak. Cara kerja dan pencapaian kerja Jokowi yang spektakuler dalam 4 tahun masa kepresidenannya, membuat publik dengan terang benderang bisa membedakan mana emas dan mana loyang. Gebrakan Jokowi khususnya di pembangunan sektor infrastruktur di semua lini yang hasilnya luar biasa menjadikan SBY yang sejatinya berbadan besar menjadi terlihat imut tak berdaya.

Setiap melihat SBY, publik langsung teringat dengan warisan mangkraknya proyek raksasa dimana-mana termasuk Istana Hantu Hambalang. Setiap kali membaca kenyinyiran SBY di medsos, publik langsung teringat dengan pembiaran mafia minyak Petral yang merajalela mengembat uang hak rakyat. Setiap melihat SBY curhat, masyarakat langsung tergugah ingatannya pada pembiaran kelompok-kelompok radikal seperti HTI berkembang pesat di semua sendi masyarakat termasuk BUMN dan instansi pemerintah.

Celakanya SBY sendiri tidak menempatkan dirinya pada posisi yang seharusnya sebagai negarawan atau mantan presiden yang patut dihargai. Sifat BAPERAN, NYINYIR dan sifat GLORIFIKASI yang over dosis membuat figur SBY sering menjadi bahan bullying masyarakat

Cibiran masyarakat semakin mengeras saat di tahun 2017 dia dengan perhitungan yang tidak masuk akal sehat memaksa anak sulungnya untuk berhenti menjadi tentara karena ambisius menjadikan anaknya Gubernur DKI Jakarta. Dan dari berbagai sumber yang terpercaya, Kelompok Cikeas waktu itu melakukan effort besar-besaran dan menempuh segala cara untuk mencapai tujuannya termasuk mempunyai andil besar dalam terjadinya demo besar-besaran berjilid-jilid yang tujuannya menghadang Basuki Tjahaja Purnama untuk maju jadi Cagub DKI Jakarta.

Tapi seperti yang kita tahu usaha demo ala togel yang berjilid-jilid tidak ada hasil positif buat Putra Mahkota Cikeas. Yang terjadi hanya menjadikan Pilkada DKI Jakarta tercatat sebagai Pilkada yang paling RASIS dan MENJIJIKKAN sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Tapi mereka mendapatkan balasan yang setimpal. Mereka yang berkeringat dan keluar uang bermiliar-miliar eh Anies – Sandi yang menikmati hasilnya. Ini membuktikan betapa lemahnya strategi perang ala SBY.

Kelemahan strategi SBY semakin nampak terpuruk remuk saat dalam perhelatan Pilpres 2019, untuk kesekian kalinya dia dikadali mentah-mentah oleh calon sahabat koalisinya. Hanya karena ketakutan akan sanksi pinalti dari KPU saja, di injury time mereka harus menanggung malu terpaksa bergabung dengan gerbong Gerindra PKS dan PAN yang sempat ditolaknya. Memalukan tapi TIDAK ADA pilihan. Daripada Pemilu 2024 didiskualifikasi.

Menurut saya rentetan peristiwa kegagalan yang bertubi-tubi inilah tanda-tanda yang jelas merupakan keterpurukan paripurna dari SBY. Dapat dikatakan merupakan Sandyakalaning SBY…….

Seharusnya ini menjadi bahan instrospeksi diri buat SBY dan kelompoknya. Agar menyadari semua dosa dan salahnya atas kerusakan yang mereka timbulkan atas bangsa dan negara selama ini.

Tapi entah mengapa saya sama sekali tidak bersedih atas keterpurukan yang menimpa SBY dan kelompoknya. Karena bagi saya HUKUM ALAM TELAH BEKERJA DENGAN SEMPURNA.

Siapa menabur angin, dia akan menuai badai. Dan feeling saya untuk sementara badai ini akan lama bersemayam di hati SBY. Entah sampai kapan, mungkin sampai akhir hayat……
Saya tidak tahu !!!

Salam Satu Indonesia,
 
Sumber : facebook Rudi S Kamri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed