by

Saat Suku Minta Jatah Labelisasi Produk Konsumsi

Oleh : Gunadi

Melihat persoalan secara sempit akan melahirkan gagasan & sikap yg salah. Tak tahu lagi mana yg benar, mana yg salah.

Sesuai UU, yg bewenang melabeli makanan halal itu hanya BPJPH(Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) setelah difatwa MUI.

Mahyeldi sebagai pejabat apalagi Gubernur Sunbar yg tak hanya pemimpin bagi yg Muslim tp juga umat agama lain, sebaiknya berfikir dulu sebelum berucap.

Aturan apa yg jadi landasan bahwa masakan Padang itu harus halal? Kalau tak ada aturannya buat dulu aturan, baru bicara agar tak malu.

Cukuplah aturan negara saja dlm hal ini yg digunakan. Dan yg suka resep/olahan Minang itu bukan hanya orang Muslim saja, kenapa pula kita harus melarang jika ada yg jualan masakan Padang Non-Halal.

Yg penting cantumkan apakah halal atau tidak yg dijual.

Orang Minang itu harus teguh dgn jati dirinya sebagai masyarakat yg terdidik dengan pikiran-pikiran besar. Bukan masyarakat kerdil nan picik yg mudah diombang ambing dan dihasut.

“Mancaliak contoh ka nan sudah, mancaliak tuah ka nan manang. Alam takabang jadi guru”, artinya kurang lebih adalah belajarlah dari pengalaman yang sudah terjadi, belajarlah dari karakter atau kompetensi yang dipunyai oleh para pemenang, belajarlah dari alam yang terbentang.

Etnis tidak harus linear dengan agama. Kita menemukan ada Jawa yg memeluk Islam, yg Protestan, yg Katolik, dan Kejawen. Bugis dan Toraja juga sama. Minang sendiri sebelum menjadi muslim, adalah pemeluk agama Buddha dan Hindu.

Di Indonesia yg majemuk ini sikap2 Chauvinisme ga usah dibesar2in. Ntar kalau tiba2 ada warga Tegal mengklaim makanan warteg itu milik mereka, lu ptotes lagi.

Sumber : Status Facebook Gunadi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed