by

Saat Marshanda Menelanjangi Kita

Oleh : Zulfikar Akbar

Berstatus selebriti dan sering muncul di tivi, bukan halangan bagi sosok Marshanda menjadi diri sendiri. Kelebihan dari karakternya ini, tak merasa rendah diri untuk menerima realitas, termasuk ketika ia mendapati ayahnya terlantar dan menjadi pengemis. Tak ada yang perlu dipertanyakan dari sikap Marshanda dengan semua penerimaannya yang apa adanya atas kondisi sang ayah. Pertanyaan terpantas dimunculkan menyusul fenomena itu adalah sikap publik sendiri. Apakah tidak ada yang salah?

Ada. Kesalahan yang terbesar yang mewarnai fenomena itu datang memang dari luar Marshanda dan ayahnya tersebut, dari penghakiman yang masih saja bermunculan di mana-mana.

Ada kesan, begitu berminatnya banyak orang untuk menjadi hakim. Alhasil, sikap Marshanda yang mau mengakui ayahnya dengan apa adanya, meskipun merupakan sebuah pengakuan yang jauh lebih berharga dari award yang dikenal di dunia selebriti, tapi masih saja yang menghakimi si anak. Sebut saja, misal dari keputusan Marshanda memberikan uang Rp 100 ribu, sontak mendapatkan respons bermacam-macam dari publik yang lagi-lagi mendadak jadi hakim. Mereka menyorot soal Alphard yang dikendarai sang selebriti hingga jumlah yang dinilai sama artinya Marshanda pun menganggap ayahnya sebagai pengemis.

Tak sedikit juga yang menyoroti soal kenapa setelah muncul di berbagai media barulah Marshanda menemui sang ayah. Bahkan ada yang memvonis artis ini tak benar-benar menghormati sang ayah.

Trenyuh. Ya, bukan lagi trenyuh karena pertemuan seorang anak dengan ayahnya yang memang sangat menyentuh. Tapi trenyuh oleh karakter kita sendiri yang kian gemar menghakimi, sedangkan kita masih memiliki aib sendiri-sendiri. Ya, kita kian sok tahu, ketika sejatinya dari jam ke jam kita lebih dipusingkan dengan urusan sendiri, tapi lancang ingin mencampuri urusan orang lain yang hanya kita kenal lewat media, itupun yang terbaca oleh kita saja.

Di pikiranku, andai saja kita mengambil pelajaran dari potret nyata ini dan berkaca darinya, akan lebih positif dan memberikan energi untuk juga menjadi lebih baik. Tapi justru masih saja banyak yang memilih mencaci. Membingungkan, apa hasil baik yang bisa didapat dari tren buruk seperti ini, gemar menghakimi?

Padahal, andai saja kita jujur, fakta hidup yang dialami Marshanda itu bukanlah sebuah hal yang sederhana. Pengakuannya bukanlah sesuatu yang mudah. Ia mempertaruhkan popularitas, mempertaruhkan nama dirinya sendiri, dan mungkin juga kariernya karena fenomena itu bagian dari sebuah masalah yang tak dapat kita ukur.

Sekali lagi, kita telah menjadi hakim yang buruk, jika sebuah sikap baik dari seorang anak justru dinilai dengan buruk.

Tercenung. Mental kita kian parah saja. Kenapa saya sebut kita? Karena di tengah publik yang menyimak jalan cerita Marshanda tersebut, tak hanya Anda tapi juga ada saya di sana. Di “kerumunan” itulah saya pribadi, sekali lagi, tercenung.

Bukan soal masa depan Marshanda dan ayahnya yang menjadi persoalan di tengah fenomena ini, tapi masa depan dari sebuah nilai yang sejatinya dibutuhkan; kebaikan. Jika kebaikan bisa dinista karena hal-hal yang bersifat praduga saja, bagaimana bisa berharap bisa menemukan kebaikan akan tetap bertahan di masa depan.

Orang-orang lebih peduli pada simbol, karena simbol yang relatif hanya sebagai aksesoris dirasa lebih menarik. Saat simbol itu ditanggalkan, tak ada lagi yang memukau, maka kemudian itu dirasa sebagai alasan kuat untuk lagi-lagi menghakimi. Ingat, bagaimana artis tersebut menuai cibiran hingga cacian ketika ia meninggalkan kerudung, karena alasan dirinya ingin menjadi diri sendiri, tak ingin hidup berdasarkan keinginan banyak orang, dan menegaskan diri bahwa kehidupannya adalah tanggung jawabnya. Orang-orang tidak menerima.

Orang-orang merasa berhak menghujat dan menghakimi. Mereka lupa bertanya, saya siapa? Sehelai kain yang menjadi aksesoris pun dinilai jauh lebih berharga dari manusia. Secara tak sengaja, mereka memuja kain yang masih bisa diukur harganya berapa, dan menista manusia yang sejatinya jauh lebih berharga. Begitu juga di depan fenomena terkini, ketika Marshanda muncul lagi dengan kehebohan pengakuannya yang blakblakan. Hakim-hakim dadakan pun lagi-lagi bermunculan.

Entah sejauh mana kita mengetahui ada apa di tengah keluarganya, dan peristiwa apa saja yang sudah mereka jalani, lalu keluarganya pun dihakimi. Kita merasa bukan sebuah dosa, membiarkan praduga leluasa bekerja, menguasai pikiran kita.

Sudahlah. Kenapa kita harus menilai Marshanda sebagai produk dari sebuah kegagalan dalam sebuah keluarga, ketika kita sendiri pun gagal membimbing pikiran dan perasaan kita sendiri untuk adil di depan persoalan yang sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Kenapa kita harus repot-repot mencari-cari apa yang salah dari kehidupannya, ketika kehidupan kita sendiri tak seluruhnya berjalan dengan benar. ***

Kita buka mata saja, bukan untuk mencari-cari apa saja kesalahan Marshanda dan ayahnya. Kita buka mata untuk melihat diri sendiri, sejernih-jernihnya, untuk menemukan kesalahan dan kekurangan sendiri, misalnya, kenapa kita gagal menemukan kebaikan yang sebenarnya luar biasa dari seorang anak yang merindukan ayahnya dan menerimanya apa adanya ketika bersua.

 Jika untuk membuka mata begini pun kita belum bisa, bagaimana kita bisa begitu yakin takkan mengalami seperti apa yang kini dialami Marshanda dan ayahnya.

Hemat saya pribadi, apa yang kali ini ditampilkan selebriti satu ini bukanlah sesuatu yang sederhana. Ada kematangan jiwa dan spiritual di dalam dirinya. Tanpa itu, ia mungkin akan jauh lebih peduli pada bagaimana menjaga namanya dan mengawetkan popularitasnya.

Jika pilihan Marshanda dengan pengakuannya yang apa adanya itu sebagai pertaruhan, maka ini adalah pertaruhan terbaik. Ada bayaran yang pasti akan didapatkan olehnya, melebihi dari royalti atau pendapatan dari mana saja yang pernah didapatkannya selama ini.

Walaupun, iya, bagi dia pribadi, jika menyimak dari berbagai tulisan kecilnya di media sosial, bayaran terbaik itu sudah didapatinya, dan itu adalah bertemu dengan ayahnya sendiri.

Ini penghormatan sekaligus cinta yang bisa dikatakan sempurna dari seorang anak kepada orangtuanya.

Jangan lupa, kita masih bisa menoleh ke wilayah yang terdekat dengan keluarga kita saja atau mungkin tetangga. Betapa banyak anak yang bahkan melecehkan orangtua mereka sendiri yang susah payah membanting tulang mencari nafkah, atau mungkin suami yang diremehkan istri karena soal pendapatan yang terbilang masih rendah.

Materi kerap menjadi ukuran bagi banyak orang untuk menilai ini adalah orang yang pantas dihormati atau tidak. Sedangkan Marshanda, lewat tindakannya, mematahkan itu, bahwa ada hal yang jauh lebih berharga dari sekadar materi. Di sinilah, kenapa ia bersedia terbuka secara apa adanya dan menunjukkan kejujurannya, tanpa membantah atau memungkiri; dalam titik terendah sekalipun kondisi seorang yang dicintainya masih tetap pantas dicintai.

Saya yang juga seorang ayah, yang juga memiliki seorang putri, sebagai lelaki tapi harus mengakui mata saya pun turut berkaca-kaca dengan aksi sang selebriti. Saya belum pernah terharu oleh aksi-aksinya di dunia peran, tapi terharu dengan tindakan nyatanya yang lebih indah dari apa yang pernah ia perankan. Ia bukan hanya menjadi pemeran di dunia hiburan, Marshanda sudah menjadi sebuah pelajaran. Mungkin, untuk semua ayah atau siapa saja yang kini menjadi orangtua.**(ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber  foto : fajar.co.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed