by

Saat Kritikan Disebut Kebencian

Oleh : Randaru Sadhana

Satu pertanyaan twitter, menyinggung tentang hinaan kepada Jokowi yang paling membekas di ingatan kita selama 2 kali pilpres. Jawabanku saat fitnah PKI menguar hebat di negeri ini. Fitnah menggaung terus sampai menggoyahkan barisan pendukung Jokowi kala itu.

Satu diantaranya datang dari pengamat politik Yunarto Wijaya. Saking boomingnya fitnah itu dan menggelora di seantero negeri, ibunya bertanya apa betul Pak Jokowi yang mereka dukung adalah sosok komunis. Pria yang sering dipanggil Mas Totok itu sampai ketawa, karena ibunya termakan hoax dan fitnah yang sangat viral itu.

Aku rasa Jokowi sendiri tidak akan pernah lupa dengan peristiwa yang viral bertahun-tahun itu. Karena dia sendiri yang menjawab fitnah itu dengan kalkulasi logika kita masing-masing. Keluarganya yang terseret pun, mencoba berulangkali memparkan fakta tentang bagaimana latar belakang mereka.

Bahkan sang ibu yang taat patuh terhadap ajaran agamanya, selalu menguatkan Jokowi lewat wejangan dan doa. Aku sendiri sudah menjadi pendukung Jokowi sejak jabatan wali Kota Solo tersampir di kedua pundaknya.

Cerita tentang sosoknya yang merakyat bukan hanya sekedar omongan saja, tapi nampak betul dalam realisasinya. Dia adalah perwujudan dari rakyat jelata, pemimpin yang bukan lahir dari sendok perak. Hanya dari keluarga sederhana di kota ternyaman di Jawa Tengah, Solo.

Prinsipnya dan wejangan ibunya untuk tetap menjadi sosok yang rendah hati masih menggaung sampai hari ini. Lamun siro sekti, ojo mateni, meskipun kamu sakti jangan sekali-kali menjatuhkan. Lamun siro banter ojo ndhisiki, meskipun kamu cepat jangan selalu mendahului. Lamun siro pinter ojo minteri, meskipun kamu pintar jangan sok pintar.

Jokowi adalah kita, karena pemimpin satu itu yang mengajarkan rakyatnya untuk melangkah dengan kesederhanaan tanpa kesombongan. Dalam perjalanan mengawal Pak Jokowi sampai purna tugasnya sebagai orang nomor satu di negeri ini, kami mendapat wejangan khusus darinya untuk melawan Prabowo. Dan pesan yang kami terima adalah mencegah orang buruk berkuasa.

Ya, memangnya dari siapa fitnah PKI itu bisa langgeng sampai hari ini, kalau bukan rivalnya dulu? Jika kita flashback, fitnah, hoax dan olok-olokan itu masih terpatri jelas dalam ingatan para pendukung Jokowi. Bahkan jejak digital sudah merekam bentuk black campaign itu dan semua tercetak jelas sampai hari ini.

Kami tidak akan lupa, karena hal itu terlalu menyakitkan untuk dilupakan. Tapi kondisi hari ini berubah, mereka yang dulu menguliti Jokowi berbalik menyanjung-nyanjungnya demi tiket dan dukungan untuk bos mereka.

Jokowi mulai terbuai dengan kekuasaan yang menjadi incaran kubu mantan rivalnya. Bisikan ghoib itulah yang membuat Jokowi menabrak konstitusi, demi mengangkat anaknya menjadi pemimpin negeri ini bersama Prabowo.

Aku dan mereka yang sudah membersamai perjuangan Jokowi, berusaha untuk terus mengingatkan agar pemimpin yang kami kawal sedari awal ini tidak terbawa arus dan hasutan Prabowo dan kubunya. Karena itu bukan hanya mencoreng namanya, tapi juga mencelakai negara dan rakyat Indonesia.

Penegakan hukum melemah dan ketidakadilan semakin membara di negara hukum ini. Kami terus mengingatkan Jokowi yang mulai menghalalkan cara untuk memenangkan Prabowo-Gibran. Jangan sampai Jokowi dan keluarganya jatuh ke jurang. Dulu dia sudah dilumuri kotoran dari kubangan itu, jangan sampai mereka jatuh hanya karena tidak berhasil ngerem keserakahan.

Kami yang mendukung Jokowi dari awal terus berupaya untuk meneriakkan kata “Jangan”. Kami ingin meluruskan hal yang salah dari Jokowi. Tidak seharusnya, presiden kebanggaan rakyat Indonesia ini berbuat keji dengan mengangkangi konstitusi dan memperalat aparat negara demi memenangkan orang yang dulu dilawannya.

Kita masih memperjuangkan pesan Jokowi, untuk mencegah orang buruk berkuasa di negeri ini. Mahkamah Konstitusi yang menjadi gawang untuk menggolkan anak sulungnya ke panggung demokrasi 2024, harus dikuliti habis-habisan demi tegaknya konstitusi dan mewujudkan demokrasi di negara demokrasi ini.

Tapi apa yang kami dapatkan hari ini? Kritikan yang menjadi alarm dan tanda sayang kami agar Jokowi soft landing di akhir jabatannya, dianggap sebagai ujaran kebencian oleh kubu Prabowo. Kawan… janganlah kalian terprovokasi bisikan ghoib itu.

Kami yang mengawal Jokowi tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan apapun hanya menginginkan Jokowi menjadi presiden yang tetap hidup di hati rakyat. Kami ingin Jokowi tetap menjadi pemimpin yang menegakkan keadilan, membela hak rakyat dan mementingkan urusan rakyat daripada kepentingan pribadinya.

Tidak ada sekali pun niat jahat untuk mencelakai presiden yang sudah kami dukung dari awal karirnya mengabdikan diri demi bangsa dan negara.

Pak Jokowi, masih ingatkah dengan wejangan dari ibu yang melahirkan bapak? Ingatkah bapak dengan doanya? Ingatkah bapak dengan perjuangan ibu bapak yang membela mati-matian saat fitnah PKI, non muslim dan chineese menghampiri dan menyeret keluarga bapak?

“Saya mendoakan orang yang memfitnah mendapat pembimbingan dari Allah SWT. Karena yang dituduhkan tidak ada buktinya dan keluarga saya tidak ada yang terlibat,”

“Namun, kami selalu mendoakan agar Pak Jokowi tetap mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT,” katanya.

“Semoga bisa berjalan lurus aja seperti kemarin-kemarin saja. Diteruskan aja. Jangan ndongak, sombong. Lurus seperti kemarin, nunduk. Pesan saya cuma itu, selalu,” ucap Sudjiatmi.

”Semoga Mas Jokowi bisa menjalankan amanahnya dengan baik. Lancar. Mau bekerja keras, jujur, amanah dan ikhlas selalu. Semoga membawa rakyat sejahtera. Tidak ada pesan khusus, pokoknya hanya berdoa terus.”

Begitu ucapan ibu Pak Jokowi yang dilantunkan lewat doa, maupun harapan ke depannya untuk anaknya. Dan kami pendukungnya, tidak akan berhenti mengingatkan Pak Jokowi. Seperti pesan ibu ideologis Pak Jokowi, Megawati Soekarnoputri, untuk mengawal bapak sampai selesai menjalankan amanah dari rakyat.

Sumber : Status Facebook Randaru Sadhana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed