by

Runtuhnya Sila Kedua di Medsos

Media sosial menjadi pameran wajah terburuk manusia Indonesia, yang saya takut sekali kalau ucapan mereka dibaca oleh anak cucu kita. Saya kuatir kalau anak cucu kita berpikir, betapa tidak bertanggungjawabnya para orangtua, leluhurnya dalam menjaga kedamaian rumah yang mereka tinggali. Dengan abadinya jejak digital, maka tinggal menunggu waktu bagi mereka, anak cucu kita, untuk menemukan keberingasan sebagian warga bangsanya sendiri. Saya membayangkan wajah sedih mereka.

Mau dinilai dari sudut pandang apa saja, norma apa saja, tentu ekspresi kebiadaban adalah kebiadaban itu sendiri. Tinggal menunggu resonansi dari opini media sosial menjadi aktivitas dunia nyata, maka terbukalah jalan konflik sesama saudara bangsa.

Guru kita, orang tua kita, tidak pernah mengajarkan demikian. Bahkan agama mengajarkan welas asih, kepada musuh sekalipun, karena kekejian adalah perilaku iblis.

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِى بِهَا فِي النَّارِأَبْعَدَمَا بَيْنَ الْمَسْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa dampak-dampaknya akan membuatnya terjerumus ke dalam neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat” (HR Bukhari Muslim)

Dan mengatasi matinya kemanusiaan, keberadaban, itu jauh lebih sulit ketimbang mengatasi persoalan lain. Tanyakan kepada korban konflik di Palestina, Suriah, Rohingya, Yaman, Bosnia…..

Apa perlu, bangsa kita, rusak dulu untuk menyadari pentingnya mempertahankan naluri kemanusiaan?

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed