Oleh: Karto Bugel
Ketika di luar sana ada seorang rektor dengan kualifikasi meragukan, kita bertanya bagaimana mahasiswanya. Kita terbawa ragu pada caranya membawakan diri. Tutur kata dan nalar obyektifnya tak tampak.
Ternyata gelar profesornya pun diragukan. Dia dilaporkan.
Kini muncul seorang yang katanya adalah Profesor doktorandus berlatar belakang Kimia dari UGM berbicara hampir senada dalam rasa konyol dengan sang Rektor meragukan itu.
Seolah masih kurang, bencana baru melanda negeri ini. Bila kemarin hadir seorang Rektor dengan kualitas sangat-sangat minim dan namun kita masih dapat abai karena status universitasnya yang sangat kecil, pada UGM kita ga boleh lagi abai. Itu universitas sangat besar sekaligus menjadi tolok ukur bangsa ini.
Karna Wijaya seorang dengan status guru besar pada UGM mengungkapkan apa yang ada di dalam kepalanya dengan bahasa tak pantas. Dia berungkap dengan nada BENCI pada sesama dosen, Ade Armando.
Caranya berungkap pada sebuah peristiwa telah merusak tatanan pantas sebuah kepatutan. Ucapan seperti itu tak pantas keluar dari seorang pengajar apalagi guru besar.
Satu lagi, seorang dengan kodrat pemikir telah bertransformasi menjadi PEMBENCI. Dan dia adalah seorang dosen bagi ratusan mahasiswanya.
Ini jauh lebih parah dalam banyak hal dibanding dengan seorang Rektor yang gelar profesornya sedang digugat. Ini bencana besar bagi dunia pendidikan kita.
Pada rekan sejawat, sesama dosen yang mendapat bencana dikeroyok ramai-ramai oleh para begal demokrasi, dia berteriak girang. Dia bersorak senang atas drama ketololan demokrasi yang dipertontonkan di depan rumah wakil rakyat itu.
Menari di atas duka rekan sejawatnya, adakah itu pantas terjadi pada orang yang katanya berpendidikan? Masuk akal dilakukan oleh seorang bergelar profesor?
Luar biasa….
Dan maka, tak aneh bila banyak mahasiswa kita saat ini cenderung tak memiliki kualitas pantas dibanggakan dalam caranya memaknai demokrasi. Tak ada hadir sosok panutan pantas ditiru.
Seperti para buzzer di media sosial yang selalu menggunakan meme, dengan mudah mereka copy paste pikiran orang tanpa dasar pijakan logis. Mereka berbicara demi kepentingan orang lain.
Maka, tradisi debat tak lagi memiliki akar dan berubah menjadi budaya gulat. Terlalu mudah mereka menebar marah dengan tangan terkepal. Tak banyak isi kepala sebagai entitas terpelajar tampak berbicara.
Serius, itu sangat berbeda dengan tradisi dari generasi mahasiswa sebelumnya. Yang terdekat, ada generasi 98.
Didahului dengan kemarahan rezim pada 1996 yang membakar Jakarta, generasi 98 terlihat sangat berciri mahasiswa. Darah mudanya terlihat merah tanpa rasa siluet.
Mereka berwarna anak-anak muda dengan pikiran anak muda, PERUBAHAN.
Sebagai antitesa Musni dan Karna, ada Arief Budiman dosen UKSW Salatiga, dosen ini sungguh luar biasa. Kiprahnya sejak 66 sebagai aktivis berlanjut saat beliau menjadi dosen.
Dia pernah ditahan oleh Orba pada 1972 saat menentang pendirian Taman Mini. Dia terlalu sering kehilangan pekerjaan gegara menentang rezim itu. Pemikirannya yang luar biasa maju sering menjadi rujukan bagi tema debat para mahasiswa. Dia menjadi inspirasi dari banyak mahasiswa.
Dan maka, munculah generasi Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari dan kawan-kawan. Munculah Adian Napitupulu dan teman-teman mahasiswa angkatan reformasinya.
Sebelum hijrah ke Jakarta pada 96, Budiman Sudjatmiko bersama Dita Indah Sari sangat sering terlihat berada di belakang buruh hingga petani. Kebersamaannya dengan banyak rakyat tertindas memberi makna baru pada tujuan hidupnya.
Kebiasaannya membaca sejarah dan hingga berdebat mengantarnya pada pemahaman baru akan makna demokrasi yang harus diperjuangkan.
Seorang Budiman sangat fasih berbicara isu kesenjangan, diskusi Pancasila hingga debat banyak teori politik hingga kerakyatan. Dia aktivis yang mahasiswa sekaligus pemikir yang membawa atmosfer perubahan.
Dia membawa orisinalitas.
Dia aktivis sekaligus tokoh mahasiswa yang mampu menggoyahkan kekuasaan Orde Baru. Dia juga telah berjasa membawa Indonesia menuju era bebas berdemokrasi.
Tak ada tampak warna mirip Budiman atau Adian pada cara mahasiswa hari ini ketika membawakan gagasannya. Tak ada tampak benderang merah putih pada dada mahasiswa hari ini.
Semua terbalut dalam tumpang tindih banyak kepentingan. Saat ini, mereka tak lebih hanya proxy saja. Mereka bukan membawa apa benar menurut idealismenya namun titipan berwarna politis. Bebannya tak tampak alamiah dengan gimmick tubuhnya. Suaranya tak terdengar wajar berbanding mimik wajahnya. Itu memang terlihat wagu….
Namun, jangan buru-buru menghakimi mereka. Ketika kualitas dosen, guru dan panutannya saja terlalu berbeda, adakah asa dapat kita harapkan muncul dari isi kepalanya?
Jangan biarkan RETAK NALAR itu menginap terlalu lama.
Seharusnya Budiman dan Adian mau hadir bersama mereka pada saat saat seperti ini. Jangan biarkan mereka terlalu lama terpapar oleh pengaruh dari pikiran dosen dan rektor norak seperti itu.
Mereka adalah masa depan bangsa ini seperti anda berdua dulu pernah.
(Sumber: Facebook Karto Bugel)











Comment