Respon Atas Pidato Politik Pak SBY

Kondisi chaos adalah suatu obyek kajian chaotic Mathematics yang kita kenal dengan istilah game theory.  Dalam kondisi ini,  pidato pak SBY sungguh tidak berguna,  karena substansi pidato politik pak SBY kondisinya normatif normal. 

Terlalu dini saat ini, sepihak, mengatakan KLB Deli Serdang ilegal atau abal-abal atau melawan hukum.  Fakta politik saat ini, menurut saya, adalah adanya dualisme kepemimpinan PD yaitu AHY dan Moeldoko. Suka atau tidak suka,  itulah faktanya. Solusinya di pengadilan. 

Pak SBY dalam pidato politiknya di link atas mengungkit jasa pak SBY terhadap pak Moeldoko yang telah mengangkatnya menjadi Panglima TNI.  Apakah pengangkatan jabatan Panglima TNI hanya sekedar jasa?  Bukannya harus memenuhi persyaratan yang rumit dan pelik? Pak SBY juga meminta maaf kepada Tuhan atas penunjukan pak Moeldoko menjadi Panglima TNI pada kala itu.  Pertanyaan yang sama juga bisa dimunculkan,  apakah pak SBY juga meminta maaf kepada Tuhan atas penunjukan pak Andi Malarangeng menjadi Menpora RI pada kala itu,  yang akhirnya,  faktanya,  pak Andi Malarangeng tersandung kasus korupsi dan divonis bersalah di pengadilan Tipikor? Perbuatan korupsi pak Andi Malarangeng jelas merugikan rakyat Indonesia.

Ingat,  tingginya angka kemiskinan di Indonesia disebabkan oleh tingginya indeks tingkat korupsi di Indonesia. Dan di era pak SBY, korupsi begitu heboh,  termasuk yang dilakukan oleh kader-kader PD. 
Logika pak SBY rancu,  karena tidak bisa membedakan antara SBY sebagai pribadi dan Mantan Presiden RI dua periode. 

Logika yang samapun bisa dimunculkan dengan apa yang dialami oleh almarhum Gus Dur dengan PKB-nya dan ibu Megawati Soekarnoputri pada kala itu. 
Saya tegaskan disini,  saya tidak punya kepentingan politik secara terbuka mendukung pihak manapun, karena saya orang di luar PD.  

Jika gonjang-ganjing politik PD ini saya analis dengan kaidah Game Theory dan saya proyeksikan dalam format NKRI,  Pancasila,  UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,  ada hal baik yang sedang berproses lewat jalur pendewasaan berpolitik. The nature will find the way. 
Saran saya kepada pak SBY untuk lebih banyak mawas diri,  dan mencoba melihat segala permasalahan secara obyektif,  dan adil.

Saya ada di Kementerian ESDM antara tahun 2012-2014, membantu terpidana Mantan Menteri ESDM Jero Wacik dalam pengembangan Renewable Energy di Indonesia.  Saya ikut mengawal di tahap awal proyek geothermal (panas bumi) Sarula hingga tuntas,  walau harus sampai di era Presiden Jokowi. Saya tahu persis banyak proyek-proyek energi yang mangkrak.  Saya yang menulis surat ke Pemerintah soal larangan ekspor konsentrat termasuk detail tatakelola smelter, yang kemudian keluar Peraturan Pemerintah Larangan Ekspor Konsentrat pada Januari 2014. Ternyata keliru memahami tulisan saya. 

Saya juga bisa tunjuk-tunjuk kegagalan suatu rezim,  misal program BBM bersubsidi salah sasaran,  liberalisasi sistem pendidikan nasional,  radikalisme dan intoleransi agama yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, reformasi birokrasi yang hanya pepesan kosong,  dll.

Tidak perlu tunjuk-tunjuk kesalahan orang yang belum tentu bersalah.  Lebih baik menunjuk kesalahan pribadi dan meminta maaf secara terbuka ke publik. Elegan dan jantan!
Terimakasih. 
Yogyakarta,  2021-03-06
BP.  Widyakanigara

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *