Krisis di Ukraina sebenarnya hanyalah persoalan kepentingan Amerika. Tidak lain dan tidak bukan. Amerika berkepentingan Ukraina berpihak ke mereka, karena Amerika berencana ingin membangun pangkalan militer di kawasan Ukraina. Sebagai imbalannya, Amerika akan memperjuangkan Ukraina dapat menjadi anggota NATO.
Hal inilah yg ditentang dengan serius oleh Rusia. Keinginan Amerika membangun pangkalan militer di kawasan Ukraina dianggap sebagai ancaman serius keamanan nasional Rusia. Sebab Ukraina adalah negara tetangga terdekat dan memiliki banyak hubungan emosional dengan rakyat Rusia. Memasukan Ukraina sebagai anggota NATO jelas tindakan yg ingin memecah belah kerukunan antar negara pecahan Soviet, yang sejauh ini kondusif.
Menjadi wajar jika Presiden Rusia, Vladimir Putin, bersikap sangat tegas kepada Ukraina dan siap melawan negara manapun yg menghasut Ukraina bergabung ke NATO. Bagi Putin, keamanan nasional Rusia dan negara-negara kawasan di Eropa Timur pecahan Soviet adalah hal mutlak.
Sebagai kepala negara yang lebih 20 tahun menjabat, Putin sangat paham geopolitik dan geostrategis di wilayahnya.
Putin pun tidak takut dengan tekanan Amerika, Perancis dan Inggris, yang selama ini juga turut mendukung Ukraina bergabung ke NATO.
Satu hulu ledak nuklir dilepas Putin ke Amerika dapat berakibat hilangnya sepertiga wilayah Amerika, dengan korban nyawa sia-sia jutaan orang.
Dengan senjata nuklir yg dimiliki Rusia, dan keunggulan finansial serta sumber daya alam khususnya minyak dan gas bumi, Rusia di tangan Putin tampil menjadi negara terkuat ke dua setelah Amerika.
Jika tindakan Rusia dibawa ke sidang Dewan Keamanan PBB sekalipun, Rusia dapat memveto apapun keputusan DK PBB karena Rusia adalah satu diantara 5 negara dunia yang menjadi anggota tetap DK PBB, dengan hak veto yg melekat pada mereka.
Alasan inilah yang menyebabkan Putin konsisten dengan keputusan nya terus menggempur Ukraina. Amerika dan NATO pun mikir seratus kali untuk coba-coba membantu Ukraina dalam konflik ini.
Solusi yg paling mudah untuk berakhirnya perang ini adalah, tergantung dari sikap Presiden Ukraina. Dia tinggal telpon Putin, dan menyatakan Ukraina menutup diri untuk dibangunnya pangkalan militer AS di kawasan Ukraina, dan membuat pernyataan tertulis untuk tidak akan bergabung ke NATO..
Jika bersikeras melawan Rusia untuk alasan yg tidak strategis terhadap kedaulatan wilayah Ukraina,maka jelas Presiden Ukraina merelakan ribuan rakyatnya dan tentaranya menjadi korban persenjataan canggih militer Rusia.
Pandangan ini adalah pandang pribadi saya, dan tidak untuk diperdebatkan..
Pandangan ini saya sampaikan agar perang ini segera berakhir dan tidak perlu mengorbankan lebih banyak lagi kerusakan dan nyawa yg melayang di Ukraina..
Bravo Vladimir Putin…
(Sumber: facebook Budhius Ma’ruff)











Comment