Pribumi dan Prilangit

 

Anies pernah mengklaim gerakan kakeknya, para Arab banyak berjasa untuk bangsa Indonesia, bahkan lebih dulu dibanding Sumpah Pemuda (1928). Anies dengan santun berbohong. PAI (Partai Arab Indonesia) didirikan kakeknya, AR Baswedan, pada tahun 1934. Bagaimana mungkin mendahului Sumpah Pemuda? Dan mengklaim satu-satu pergerakan yang memelopori gerakan Indonesai Merdeka?

Tahun 1931 sudah berdiri PTI (Partai Tionghoa Indonesia), sebagai kelanjutan Tiong Hwa Hwe Kwan (1900). Bagi PTI, Indonesia adalah tanah airnya serta menuntut persamaan hak dan kewajiban dengan pribumi, yaitu mau berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dan percaya nasib mereka terikat dengan nasib orang Indonesia pribumi. Pendiri PTI, Lim Koen Hian, pemimpin redaksi Sin Tit Po, yang mengajak AR Baswedan menjadi wartawan Sin Tit Po. AR Baswedan juga belajar politik pada Lim Koen Hian. Sejarah apa yang mau dibelokkan Anies?

Mungkin dia terpesona pada surat Bung Hatta, yang ditujukan pada AR Baswedan (24 November 1975), tentang pendapat Hatta yang tak setuju soal ‘keturunan’ Arab dan ‘keturunan’ China itu dipersamakan. Padahal, saya kira konteks surat Hatta waktu itu, reaksi atas beberapa kasus yang terjadi di jaman Orde Baru.

Istilah pribumi yang disampaikan Anies, sangat menyesatkan. Saat proses pemilihannya, merupakan pilkada terburuk sepanjang sejarah pilkada Indonesia. Pidato pelantikannya, juga terburuk. Baru (jadi) gubernur saja, sudah menantang-nantang. Seolah Jakarta adalah Indonesia (dengan meniadakan 33 pemerintah daerah lainnya).

Menurut Anies, semua warga pribumi harus mendapat kesejahteraan. Jakarta satu dari sedikit kota di Indonesia yang merasakan polarisme dari dekat. Bagi orang Jakarta, yang namanya kolonialisme itu di depan mata.

Pernyataannya yang paling menyedihkan; “Kita semua pribumi ditindas, dikalahkan, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri Indonesia.” Bahkan untuk itu, Anies mengutip peribahasa Madura; ‘Etèk sè atellor ajâm sè ngèremmè’. Itik yang bertelur ayam yang mengerami, kata Anies. “Kita yang bekerja keras untuk merebut kemerdekaan, kita yang bekerja keras untuk menghapuskan kolonialisme.”

Begitu dendamnya, sampai-sampai keraya-raya mengutip pepatah Madura, bukannya Betawi. Siapa konseptornya? Eep Saefullah Fatah? Atau orang PKS? Jika Anies menantang perang, saya kira kaum nasionalis mesti bersatu menghadapi. Karena tak bisa hanya mengatakan bisa jadi Anies dipakai, dengan pintu masuk Jakarta, mereka akan membuat Nusantara berubah.

Istilah pribumi yang dipakainya, sungguh menyesatkan. Pribumi atau penduduk asli adalah setiap orang yang lahir di suatu tempat, wilayah atau negara, dan menetap di sana dengan status orisinal, asli atau tulen (indigenious) sebagai kelompok etnis yang diakui sebagai suku bangsa, bukan pendatang dari negeri lain. Dalam masa kolonial Belanda, pribumi dipakai sebagai istilah Melayu untuk Inlanders, dan lebih bersifat politis. Sayang sekali, sampai kini istilah itu sering dieksploitasi.

Fakta menunjukkan Anies adalah WNI keturunan Arab, Ahok WNI keturunan China, teman saya ada yang WNI keturunan Batak, Sunda, Gayo, Dayak, dan sebagainya. Betawi? Sejarah menyebut, istilah Betawi baru muncul pada 1923, ketika Mohamad Hoesni Thamrin mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan kelompok etnis lain yang lebih dulu hidup di Jakarta, seperti Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Melayu, serta suku-suku pendatang seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.

Benar pepatah Perancis mengatakan, dari dapur yang berantakan (artinya cara masak yang ngawur), di meja akan tersaji makanan yang tak lezat pula. Dengan segala keprihatinan untuk gubernur baru ini. Stop rasisme, Gub, kamu bukan segalanya! Kecuali jika pribumi dan prilangit itu sama saja. Karena yang penting, kata Rendra, langit di luar langit di badan, bersatu dalam jiwa.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *