by

Presiden yang Baik

Sebagai pendatang baru, tidak berpartai (apapun, di PDIP dia comotan, bukan kader genetic), ia hanya anak pinggir kali. Rumah orangtuanya dua kali digusur pemerintahan orba. Si tukang kayu itu, juga tak punya cita-cita jadi Presiden. Kenapa jadi? Karena parpol mengalami jalan buntu. Bahkan untuk Megawati Soekarnoputri sekalipun. Dalam Pemilu 2014, Jokowi vote-getter, dengan triger ‘PDIP Menang Jokowi Capres!”.

Kemenangan Jokowi 2014 dan 2019, mengisyaratkan satu hal; Sudahilah masa lalu, dan kita songsong sejarah baru. Karena itu jaman Jokowi juga bukan jaman yang mudah. Ini jaman peralihan. Warna lama, seperti militer, birokrasi comfortable zone, pragmatisme partai politik, dan perilaku korup, tak mudah diajak berubah. Perubahan mengundang banyak musuh, kata John F. Kennedy. Kompromi politik adalah jalan gerilya Jokowi.

Lihat saja, selama lima tahun lebih, Jokowi terus saja diserang. Personalitasnya, agamanya, bahkan DNA-nya. Sementara track record yang lebih terukur, diabaikan. Ia bersih dari KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme, tahu artinya?), pendengar yang baik, seorang Islam washatiyah. Meski yang terakhir ini, penyebab kelompok khilafah dan radikalisme-agama membencinya. Siapa mereka, dan siapa yang memanfaatkan? Jangan kura-kura dalam perahu. 

Tentu saja, masalah terberat soal penegakan hukum. Bukan hanya karena banyaknya pelanggaran hukum. Para elitenya pun, termasuk SJW, juga belum tentu menghormati hukum. Entah karena tak sabar, atau pikiran utopis mereka yang ingkar terhadap proses. Karena yang beda dibilang dungu. 

Sementara itu, Jokowi dan Indonesia kemudian diapresiasi dunia internasional. Jokowi dihormati para pemimpin dunia. Pemimpin muda seperti Justin Trudeau dan Immanuel Macron mengidolakannya. Barrack Obama, mengaku Jokowi sumber inspirasinya. Tapi, sebagian kita dengan sombong ogah mengakui itu semua. 

Saya bangga pada Jokowi, sebagaimana bangga pada isteri dan anak-anaknya. Keluarga yang tidak baperan dan ngomong ngawur di medsos. Padahal fitnah dan hujatan sering tak manusiawi, tak mencerminkan orang bergama dan berpendidikan. 

Soal upacara pelantikan yang dijaga super-ketat? Itu hukumnya wajib. Sebagai rakyat, boleh dong saya tak rela Presiden yang baik itu ditembak dari jarak jauh, atau ditusuk jarak dekat sebagaimana Wiranto. 

Selama lima tahun penuh, Jokowi merasai pengkhianatan dan penghinaan dari yang tak menyukai. Padahal secara sah, Jokowi didukung suara lebih banyak, daripada yang tak memilihnya. Mestinya kita mengerti dan menghargai pilihan berdemokrasi itu. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed