Politik Keserakahan Berbalut Agama

Oleh : Alto L

DI Baghdad, ada satu jalan yang cukup terkenal yaitu jalan Abu Nawas. Nama Abu Nawas sendiri cukup dikenal di Indonesia melalu cerita-cerita 1001 malam. Dalam cerita-cerita itu, Abu Nawas selalu identik dengan kecerdikannya menipu orang tanpa orang tersebut merasa ditipu.Tapi di Baghdad, jalan Abu Nawas itu adalah salah satu jalan yang sangat terkenal karena di ujung jalan tersebut terdapat belasan bar dan klub malam. Minuman keras dijual bebas, narkotika juga, bahkan di pinggir jalan bisa kelihatan perempuan-perempuan muda yang berdiri mencari pelanggan. Iya, jalan Abu Nawas adalah salah satu kawasan hiburan malam di Baghdad.

Di jaman dulu, ijin membuka dan menjual minuman keras termasuk ijin membuka klub malam biasanya hanya diberikan kepada orang Iraq non-Muslim. Bahkan ada ‘enclave’ Kristen yang mana di situ banyak sekali toko-toko miras. Kalau di Erbil, ibukota daerah semi-otonomus Kurdi, ada daerah namanya Ainkawa yang penuh dengan klub malam, restoran yang menyediakan alkohol dan toko miras. Fun fact: waktu kembali lagi ke Iraq, rumahku ada di Ainkawa, dan oleh karena itu, anak-anak Indonesia yang biasa main ke rumahku menyebutku sebagai “Pak Lurah Ainkawa”.

Walaupun yang biasa menjual miras, atau memiliki klub malam adalah orang Iraq yang non-muslim, tapi pelanggannya ya paling banyak adalah orang Iraq muslim. ini sebenarnya hal yang biasa saja, karena memang mayoritas penduduk Iraq adalah muslim, baik Arab maupun Kurdi. Bisnis miras dan klub malam ini bisa menghasilkan uang yang cukup banyak. Ketika pasukan koalisi mulai mundur dari Iraq, aktivitas serangan teror ke orang Iraq Kristen mulai meningkat. Bukan hanya gereja yang diserang, tapi juga bisnis-bisnis miras maupun klub. Ada yang diklaim sebagai serangan yang didalangi oleh kelompok teror seperti Al Qaida, tapi ada juga yang dilakukan secara publik oleh ormas yang mengatasnamakan moral keagamaan dan orang yang menklaim diri sebagai tokoh agama (Islam).

Di satu sisi, pola ‘pemurnian agama’ ini bisa dipahami, jika tempat-tempat yang dianggap ‘najis’ tersebut kemudian berkurang, atau menghilang. Ternyata, di tahun 2018 terakhir saya di Baghdad, Abu Nawas masih tetap ramai seperti tahun 2010 saat pertama kali saya datang dan tinggal di kota itu.

Ternyata, para tokoh/pebisnis, bahkan syeik memanfaatkan ‘teror’ untuk mengusir pebisnis Kristen keluar dari bisnis miras dan entertainment, bukan untuk menjadikan Baghdad sebagai kota yang lebih religius, tapi karena ingin menguasai bisnis yang perputaran uangnya sangat menggiurkan. Jadi, moralitas dibalut dengan narasi-narasi pemurnian agama dan dengan memanfaatkan teror dipergunakan sebagai cara untuk merebut bisnis-bisnis ‘najis’, karena di situ uangnya banyak.

Pola-pola seperti ini sebenarnya banyak juga terlihat jelas di Indonesia tanah air beta ini. Kelompok-kelompok yang memakai narasi agama dalam aksinya yang seakan-akan ingin menjaga kemurnian agama, ternyata menjadikan itu sebagai kedok untuk negosiasi atau memeras pelaku bisnis. Ujung-ujungnya ya duit. Bahkan dalam praktik-praktik prostitusi pun seperti di video ini, ketika anak-anak dijual keperawanannya oleh orang-orang yang menggambarkan dirinya sebagai tokoh agama. Jadi, jangan gampang di-Abu Nawas-i oleh orang-orang yang mencitrakan dirinya sebagai polisi moral dan paling suci. Apalagi dengan membawa narasi agama. Pelajari motifnya dulu. Siapa tahu, orang itu adalah Abu Nawas.

Sumber : Status Facebook Alto L

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *