by

Political Game

Oleh: Ely Yanto

Pilpres 2024 masih lama, tiga tahun lagi. Tapi gaung dan iramanya sudah menggelegar. Ada yang berirama syahdu ada pula yang tidak enak dinikmati dan didengar telinga.

Ada yang sudah mulai terang terangan memproklamirkan diri, dan masih malu malu kucing menunggu dilamar partai. Gambar hanya pemanis tidak mencerminkan realitas ( Anies gak dipajang gambarnya).

Sebenarnya tidak ada yang resmi salah satu kandidat mulai kampanye atau mencalonkan diri. Semua dipicu saat Puan Maharani melakukan konsolidasi partai PDIP di Jawa Tengah tanpa mengikut sertakan Ganjar Pranowo yang saat ini justru penguasa Jawa Tengah melalui PDIP.

Hal ini langsung memicu gaduh berkepanjangan dan seperti biasa, media mulai mengunggah calon kandidat yang mungkin layak untuk saling bersaing dan bersanding. Karenanya suasana pun mulai panas, partai politik yang tadinya masih adem saja mulai melakukan penjajakan dan penjodohan, tidak terkecuali netizen yg mereka reka jagonya.

Suka tidak suka, kalo sdh begini akan muncul dan terjadi polarisasi, makin lama makin tajam. Dua kali pemilu kemarin sebenarnya bisa menjadi tolok ukur 2014 dan 2019 adalah pemilu yang terburuk. Pada 2014 meskipun buruk masih dalam kategori terkendali, meskipun terbelah masih ada JK sebagai katalisator untuk meredam emosi capres yg kalah berikut pendukungnya.

Pada 2019 , polarisasi politik sangat tajam karena yg maju masih tetap sama kecuali wakilnya yg berobah dan diikuti 2 pasang capres. Pemilu ini melahirkan masyarakat yang terbelah menjadi 2, lahir cebong dan kampret. Kita tentu tidak ingin pemilu yg akan datang masih terjadi polarisasi yang tajam semacam ini, menyedihkan kalo para POLITICAL GAME selalu memanfaatkan dan melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkan dan terus di kapitalisasi, dimanfaatkan untuk meraih kursi kekuasaan.

Jika hanya ada 2 pasangan kandidat, keduanya merasa punya potensi menang. Mereka cukup memperkuat branding nya sambil melebeli lawannya dengan branding negatif. Saling Serang, saling caci, saling memaki lawan menggunakan apa saja. Baik di dunia nyata ataupun dunia maya ( medsos) Polarisasi politik memang hal yang wajar, di dunia lain Eropa atau USA pun terjadi.

Bedanya mereka menonjol program untuk bersaing dan konsisten untuk yang kalah sebagai oposisi dan penyeimbang. Beda di Indonesia, masih ada tawar menawar politik dan bagi bagi kekuasaan. Yang tersisa rakyat dan kelompok yang terpolarisasi tadi dan selalu bertikai. Residu pilpres selalu tersisa meskipun presiden telah terpilih dan bekerja.

Politisi berjalan sendiri dengan agenda masing-masing, sementara rakyat dibiarkan terbelah dan saling maki, itu bisa terjadi sampai ke pemilu berikutnya. Kita berharap semoga pilpres 2024 bisa diikuti lebih dari dua pasang kandidat, dan berjalan lancar. Semoga….. kini saatnya membangun negeri, bukan membangun kebencian sesama anak bangsa.

(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed