by

Polemik “Kemenag Hadiah Negara Untuk NU”

Oleh : Sahir Nopi

Pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan sambutan di webinar bertajuk Santri Membangun Negeri dalam Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi bahwa Kementerian Agama adalah hadiah negara untuk NU (Nahdlatul Ulama). bukan untuk umat Islam secara umum, spesifik NU. Jadi wajar kalo sekarang NU memanfaatkan banyak peluang di Kemenag untuk NU, menuai kritik.

Baik dari organisasi masyarakat maupun kalangan politisi. Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan sejarah pendirian Kemenag yang ia ketahui berbeda dengan versi Yaqut. Meski demikian, ia tak menjelaskan lebih lanjut perbedaan tersebut. Mu’ti meminta agar sebagai Menteri agama, Yaqut bersikap adil kepada semua agama dan organisasi.

Sementara itu, salah satu tokoh agama yang bukan hanya tokoh Muhammadiyah namun juga pengurus MUI, Anwar Abbas menyarankan agar Kemenag dibubarkan. Ia menyesalkan pernyataan dan cara berpikir Yaqut yang menyebut Kemenag hadiah bagi NU.

“Saya minta Kementerian Agama lebih baik dibubarkan saja karena akan membuat gaduh di mana mudaratnya pasti akan jauh lebih besar dari manfaatnya,” kata Anwar. Usulan itu ikut didukung politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana. Dia setuju jika Kementerian Agama atau Kemenag lebih baik dibubarkan saja. “Jadikan Kementerian Urusan Haji tok. Urusan sekolah Islam di bawah Kemendikbud. Urusan KUA di bawah Depdagri. Setuju kan @dayatia daripada diklaim milik NU aja,” 

Sedangkan Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Saleh Partaonan Daulay menilai pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dapat menimbulkan polemik dan kontroversi. Pernyataan itu ialah menyoal Kemenag hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama.

Padahal pernyataan Menteri Agama yang akrab disapa Gusmen bahwa Kemenag muncul setelah KH Wahab Chasbullah menjembatani kelompok Islam dan nasionalis dalam perdebatan tujuh kata dalam Piagam Jakarta. “Kalau sekarang Kemenag menjadi kementerian semua agama, itu bukan menghilangkan NU-nya tapi justru menegaskan ke-NU-annya. NU itu terkenal paling toleran, moderat. Saya kira tidak ada yang salah. Saya kira itu menjadi landasan cara berpikir kami di Kemenag sekarang,”.

Para pemrotes itu disinyalir gelisah dengan apa yang dilakukan Kementerian Agama dengan menerapkan prinsip yang bukan hanya tunduk pada aturan namun menerapkan keadilan. Sejak negara ini berdiri, belum ada direktorat jendral Pesantren padahal puluhan bahkan ratusan ribu jumlah pesantren di Indonesia yang juga keilmuannya ikut diakui dunia. Dalam masa perjuangan hingga saat ini kontribusi pesantren juga menunjukkan peran nyata. Mereka gelisah Ketika kelompok-kelompok Islam yang tanpa perjuangan masa penjajahan masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Akibatnya muncul friksi-friksi ditingkat masyarakat bahkan diakui atau tidak adanya terorisme dan radikalisme berawal dari kelompok-kelompok ini. Kelompok baru itu mengusung jargon kembali ke Al Qur’an dan Hadits, mempromosikan khilafah, mencampur adukkan muamalah dengan Syariah dan lain sebagainya. Terminologi hijrah dimaknai dengan meninggalkan kesibukan dunia, perbedaan itu sebagai dosa, dan banyak ragamnya. Akhirnya intoleransi meningkat dan konflik di masyarakat makin memuncak. Inilah yang sejatinya membuat resah Nahdlatul Ulama.

Pun tidakkah para pemrotes itu tahu, apakah pernyataan Yaqut menimbulkan konsekuensi para ASN yang bukan dari NU akan dipecat? Jelas tidak. Apakah semua pejabat yang menduduki jabatan strategis di Kemenag akan diganti orang NU? Juga tidak. Apakah sekolah maupun perguruan tinggi dibawah Kemenag bakal mewajibkan pembelajaran Ke-NU-an atau Aswaja? Kan tidak.

Apakah para pemrotes itu juga lupa sejarah bahwa Menteri Agama juga pernah berasal dari Muhammadiyah? Pernah ada KH Fakih Usman dan Malik Fajar, dari Golkar pernah ada Prof Mukti Ali, Alamsyah Ratuperwiranegara, dan Munawir Sadzali. Pun Menteri Agama pernah dijabat dari Math’laul Anwar yang juga lebih dikenal dengan jabatan militernya, Jendral Fachrur Razi. Apakah saat tidak dipegang oleh NU lantas ormas berlambang bola dunia itu tidak patuh bahkan melawan pemerintah? Sama sekali tidak. Bahkan saat pertama kali dilantik sebagai Menteri Agama, Gus Yaqut menegaskan bahwa dia bukan Menteri Agama Islam melainkan Menteri Semua Agama. Mana suara kalian Ketika beliau menandaskan hal itu? Kalian diam saja. Para pemrotes itu seringkali bersuara jika kepentingannya terganggu. Tapi Ketika ada pernyataan atau penegasan kepada kesetiaan maupun kecintaan terhadap NKRI, mereka diam. Jadi sebenarnya mereka itu ingin NKRI masih berdiri tegak atau ingin NKRI runtuh?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed