by

Pilkada dan Kezaliman di Balik Topeng Kesalehan

Meski demikian, aku menyaksikan hal yang berbeda. Linimasa di jagat sosmed menampilkan wajah tak ramah. Perbedaan masih saja disikapi dengan marah-marah dan puncaknya kerap kali menuding pendukung petahana sebagai kaum munafik yang diharamkan menshalatkan jenazahnya.

Aku memilih bersuara demi Ibukota tercinta, Ibukota yang gagah menjadi sculpture Indonesia Raya. Maka dalam konteks Indonesia yang bukan negara agama, penjelasanku berikutnya semoga dapat membuka mata hati kita semua.

Begini;

Kita ini tinggal di Nusantara. Negeri makmur yang berlimpah berkah. Sejak Dulu founding father baik ulama maupun pemerintah, selalu duduk bersama menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Mereka sepakat negara ini berdasar Pancasila dan bisa menerima Indonesia bukan negara agama. Maka, setiap kepentingan agama diupayakan dengan bijaksana agar terakomodir dalam semua program Negara.

Semua berjalan indah, bertahun-tahun pembangunan di ragam sektor tak mengenal lelah, semua umat beragama tenang beribadah, hari-hari keagamaan dijadikan agenda nasional oleh pemerintah, padahal, di negeri lain rasanya tak ada yang seperti di negeri kita. Semua kita merayakannya dengan sukacita.

Belakangan, persisnya saat era reformasi ditancapkan, sekelompok orang memanfaatkan peluang, gerakan bawah tanah yang selama ini sembunyi dalam diam, tiba-tiba saja bermunculan, ada partai yang mengusung agama sebagai jualan, ada pula ormas-ormas yang berhujah membela kebenaran. Ya, kebenaran nisbi yang beda tipis dengan kezaliman.

Entah siapa yang memulai, tapi sepertinya semua bersepakat saling memanfaatkan. Masyarakat negeri ini sudah tak jelas lagi mendefinisikan kebenaran. Sentimen agama, ras dan golongan kembali menjadi isu yang dimunculkan. Ada agenda besar yang katanya akan membuat negeri ini hancur berantakan. Mungkin hal itu benar akan terjadi demikian, tapi di masa kisruh itu, seorang anak bangsa yang tak diduga berkuasa sebagai pucuk pimpinan, merelakan dirinya dihujat tanpa pembelaan, dengan bijaksana Gus Dur melepaskan jabatan, turun dari singgasana kekuasaan.

Isu agama memang paling sensitif disuarakan, jangankan orang sholeh, preman sekalipun akan segera bersiap maju ke medan perang. Dalam politik, agama kerap kehilangan ruh yang mengawal persaudaraan kemanusiaan. Risalah cinta dan kasih sayang segera pudar, hilang dibasmi oleh keserakahan.

Topeng kepalsuan kini menghiasi negeri. Bukan hanya di kancah politik yang sudah dikenali, tapi yang menyakitkan hati ranah agama sudah dimasuki. Amboi, benar sekali sabda sang Nabi, “Umatku seperti buih,” banyak dalam jumlah, tapi kualitasnya minim sekali. Beragama cukup seperti pentas di televisi, yang penting busana dan kemasan jangan ditinggali. Beragama di negeri ini kok seperti naif sekali, entah tuhan mana yang diimani, tapi rasanya ruh kesejatian agama telah digembosi.

Atas nama tuhan, menyebut diri paling benar
Atas nama tuhan, berkoar seabreg dalil yang memuakkan
Atas nama tuhan, menuduh yang lain bid’ah dan menyesatkan
Atas nama tuhan, menyebut Kâfir menjadi ringan di lisan
Atas nama tuhan, jubah kesalehan dikibarkan
Atas nama tuhan, semua cara dibenarkan
Atas nama tuhan, yang berbeda harus dienyahkan
Atas nama tuhan, ukhuwwah dikerdilkan
Atas nama tuhan, persaudaraan disingkirkan
Atas nama tuhan, keadilan dihancurkan
Atas nama tuhan, makna cinta disempitkan
Atas nama tuhan, kasih sayang dipinggirkan
Atas nama tuhan, alasan kemanusiaan ditiadakan

Agama, kok dijadikan dagelan!
Memangnya tuhan stand up comedian!

Sudahi semua sudut pandang sektarian. Surga terlalu luas untuk kau masuki sendirian. Agama ini sejak awal didesain dengan spirit rahmatan, maka ta’ati saja, menjadi hamba yang gemar menebarkan ksih sayang. Bukankah seribu teman itu sedikit tapi satu musuh kebanyakan? Prinsip ini jangan hanya jadi teori yang dihafalkan. Ejawantahkan dengan semangat yang riang.

Negeri ini harus kita jaga bersama-sama, seperti dulu para pahlawan menjaganya dari cengkraman penjajah. Nusantara ini sudah banyak menderita jangan lagi ditambah oleh pertikaian antar saudara, apalagi hanya karena beda pilihan ada yang tega menumpahkan darah, innâlillâh.

Akhirnya, mari kita bersyukur atas karunia Tuhan yang maha Ghofûr, jangan pernah ada takabur karena kesombongan akan membuat kita hancur lebur. Mulailah santun dalam menulis dan bertutur demi persaudaraan bangsa yang bergerak menjemput makmur.

Enha
Mari jadikan pilkada putaran kedua sebagai sebuah festival: festival karya anak bangsa. Bangun suasana yang menyenangkan, bukan peperangan yang mencekam.

(Sumber: Status Facebook Enha)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed