by

Pesantren dan Teknologi

Oleh : Ahmad Sarwat

Pesantren tradisional ala salafiyah (bukan salafi wahabi) yang isinya hanya ngaji kitab kuning melulu seringkali dijadikan kambing-hitam sebagai kalangan yang kuno, ortodoks, jumud, tidak up to date, kampungan, norak dan lain-lain. Saya bukannya mau membela, tapi dimana lagi ada pesantren yang konsentrasi pada kitab-kitab turats warisan para ulama masa lalu, kalau bukan mereka. Jadi jangan kecilkan peranan mereka. Bahwa konsentrasi mereka habis untuk kitab melulu, saya kira wajar saja.

Dari pada sibuk urusan yang lain. Namanya juga pesantren, kalau tiap hari buka kitab ya wajar. Memang itu core bisnis mereka. Tapi jangan tuduh mereka tidak melek teknologi, apalagi anti teknologi. Walaupun dalam kenyataannya memang sering identik juga. Mentang-mentang anak pesantren ,kok rada kuper dengan teknologi ya. Tapi jangan dibuli dulu. Kita harus lihat apa sebabnya. Menurut hemat saya, faktor yang bikin banyak kalangan santri jadi tidak melek teknologi bahkan terkesan anti teknologi sebenarnya bukan lantaran kitab kuningnya. Tapi karena minimnya akses mereka kepada para praktisi teknologi itu sendiri.

Seharusnya para kiyai dan pengasuhnya lebih sering diajak ngobrol oleh para praktisi teknologi. Biar mereka melek teknologi juga. Tapi tidak usah dibuatkan jam khusus apalagi dalam bentuk kurikulum atau silabus di kelas. Cukup bikin aja acara trip visit ke bengkel mobil, pabrik komputer, atau laboratorium biologi, kimia serta ke rumah sakit. Dan sepanjang tour dipandu oleh pakar yang siap menjawab semua pertanyaan. Jadi mereka lihat langsung apa itu teknologi kekinian dan mereka ketemu langsung dengan pakarnya. Terjadilah dialog dan tanya jawab yang unik. Dalam pandangan saya, membuka wawasan teknologi itu penting.

Visit dan trip itu penting juga. Karena memang Allah SWT perintahkan hal macam itu.

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْض

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi. (QS. Ali Imran : 137)

oOo

Jadi ke depan, meski hanya santri tradisional dan mainannya kitab kuning, tapi wawasan teknologinya maju, bahkan melek teknologi juga. Soalnya bergaulnya luas, dengan berbagai pakar dan ahli di bidang masing-masing. Ada dokter, fisikawan, psikolog, industriawan, peneliti, programmer, ilmuwan, penerbang, bankir, astronom, praktisi hukum, tentara, polisi dan berbagai praktisi lain. Yang paling penting, kalau ingin tahu sesuatu terkait teknologi, juga tahu dimana menemukan sumber yang valid. Tidak sedikit-sedikit jualan hoaks, gampang dibohongin dan gampang diprovokasi. Jadi korban penipuan bisnis berlabel agama.

Terlalu murah untuk dimanfaatkan oleh pihak tertentu. Sayangnya yang rajin datang ke pesantren justru para calon pejabat. Itu pun hanya pas lagi butuh suara dalam pemilihan. Setelah itu bablas angine. NOTETeman saya kuliah, dulunya santri kampung yang amat polos dan lugu. Sekarang ada di dalam penjara. Kok bisa?Soalnya dia jadi agen ISIS. Sudah lama diincar densus 88. Ini akibat salah gaul, karena saking polosnya. Harusnya gaulnya sama pebisnis, minimal jadi agen sembako atau agen LPG deh minimal. Yah namanya polos dan lugu, ikut saja sama yang mendekati. Kasihan juga sebenarnya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed