Perekrut dan Pejuang : Memahami Teroris Wanita Saat Ini

> Apa Daya Tarik Wanita?
Lebih banyak organisasi teroris mulai merekrut wanita karena wanita dapat bertindak sebagai perekrut berpengaruh dan mereka dapat melalui pemeriksaan yang tidak seketat pria di pos pemeriksaan.  Wanita bisa menjadi perekrut yang sukses karena mereka pandai mendeteksi tanda-tanda awal radikalisasi pada seseorang, karena ekstremis sering menargetkan hak-hak wanita sejak dini.  Mereka juga pandai merekrut wanita lain yang merasa lebih nyaman mempercayai seorang wanita sebagai penghubung awal.  Wanita lebih kecil kemungkinannya untuk dihentikan dan digeledah, dan mereka dapat menyembunyikan bom dan senjata lain di pakaian mereka.  Sementara pria dapat dipandang mencurigakan, wanita dapat lebih mudah menghindari deteksi.

> Wanita sebagai Pejuang
Selain merekrut anggota baru, beberapa perempuan menjadi pejuang.  Paling sering, wanita adalah pelaku bom bunuh diri.  Pada 2017, Global Extremism Monitor menemukan 100 serangan bunuh diri dilakukan oleh 181 wanita (11% dari semua insiden tahun itu).

Boko Haram paling sering memanfaatkan pelaku bom bunuh diri wanita.  Boko Haram secara aktif mencari wanita karena mereka “lebih murah dan lebih mudah dibiayai daripada pemimpin pria”.  Dari tahun 2014-2018, 450 wanita dan anak perempuan menjadi pelaku bom bunuh diri untuk kelompok tersebut, yang mengakibatkan kematian lebih dari 1.200 orang.  Saat ini, dua pertiga dari penyerang bunuh diri Boko Haram adalah wanita.

> Apa yang harus dilakukan?
Pendekatan rehabilitasi biasa yang mungkin digunakan untuk laki-laki tidak kondusif bagi perempuan yang menghadapi masalah seperti trauma akibat penyerangan dan pengasuhan anak yang ayahnya meninggal atau tidak ada.  Diperlukan pendekatan yang beragam yang membahas alasan mendasar mengapa perempuan bergabung dengan organisasi teroris.

Dalam beberapa tahun terakhir, Afghanistan perlahan mulai menangani masalah ini dengan merekrut dan melatih lebih banyak petugas polisi wanita.  Ini membantu mengisi celah keamanan yang diperlukan untuk menggeledah wanita dan anak-anak selama penggerebekan dan di pos pemeriksaan, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk menyembunyikan bom dan meledakkan diri.  Meskipun para wanita masih menghadapi pengucilan yang parah di Afghanistan, tindakan perekrutan dan pelatihan wanita untuk menjadi petugas polisi adalah dasar untuk kebijakan masa depan yang menawarkan kemandirian, pekerjaan yang stabil, dan keterampilan yang berguna bagi wanita.

Negara dan organisasi lain menemukan peluang tambahan untuk memberdayakan wanita.  Misalnya, PBB telah mengambil sikap aktif dalam program-program  melawan terorisme melalui fasilitasi “partisipasi perempuan, kepemimpinan, dan perlindungan hak-hak mereka.”  Karena perempuan seringkali memiliki pemahaman yang kuat tentang isu-isu lokal, dibuat cara untuk mempromosikan perempuan  dalam komunitas mereka dan mencegah mereka terlibat dalam terorisme.  Ini adalah permulaan yang diperlukan untuk mengatasi masalah lebih banyak teroris wanita yang bertekad untuk mengganggu dunia kita.

Text Source: 
Recruiters and Fighters: Understanding Female Terrorists Today, By Cat Cronin, ASP, Jul 08, 2019.

Sumber : Status Facebook Estiana Arifin

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *