by

Perangkap Setan Melalui Ustadz Instan

Masalahnya, akibat keawaman mereka, mereka bersikap intoleran, predatoris dan vigilant dalam “berdakwah”. Intoleran karena perspektif mereka sempit, satu arah dan satu warna dalam memahami agama. Tidak ada kebenaran di luar kebenarannya. Tidak ada keselamatan di luar kelompoknya. Mereka merasa benar, syar’i dan shalih sendiri. Di luar diri dan kelompoknya, adalah orang-orang bejat, bodoh, munafik dan sesat.
Sehingga agar “dakwahnya” diterima, mereka menggunakan pendekatan kekuasaan bukan pencerahan. Mereka memandang objek “dakwah” layaknya hewan buas memandang mangsanya. Penuh nafsu. Ketika disanggah, ditentang dan ditolak; Mereka emosi, membenci dan mem-bully. Kemudian main hakim sendiri (vigilante). Penjadi ahli tafsir, mufti dan hakim bagi orang lain.
Mereka merasa taat, padahal maksiat. Ini yang disebut dengan istilah maksiat dalam taat. Syaikh Ibnu Atha’illah mengatakan pangkal setiap kelalaian dan maksiat adalah merasa puas diri.
. أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَ غَفْلَةٍ وَ شَهْوَةٍ الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ وَ أَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَ يَقَظَةٍ وَ عِفَّةٍ عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.
Pangkal segala maksiat, kelalaian, dan syahwat adalah sikap puas terhadap keadaan diri sendiri. Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan kesucian adalah sikap tidak puas dengan keadaan diri sendiri.
Menurut Syaikh Zarruq ada tiga ciri orang yang rela dengan nafsunya: Ia melihat al-Haqq untuk nafsunya, menyayangi nafsunya dan mengabaikan aib-aib nafsunya serta meyakini kesucian dirinya sendiri.
 
Sumber : Status Facebook Ayik Heriansyah

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed