by

Perang Lawan Bandit

Mungkin Indonesia butuh 100 tahun lagi melahirkan pejabat seperti Ahok. Bersih, jujur, pekerja keras dan detil. Atau jangan-jangan kita memang ditakdirkan tidak akan pernah memiliki pejabat dengan kualifikasi seperti itu.

Bagaimana dengan Jokowi? Keberanian dia memotong mafia migas dengan membubarkan Petral itu menyisakan sakit hati kelompok yang selama ini menari-nari bermandikan dolar. Begitupun mafia di berbagai sektor lainnya. Fokus dia membangun infra struktur membuat duit rakyat bermanfaat untuk rakyat.

Apakah semua rakyat suka? Semestinya begitu. Tapi pasti ada yang sakit hati. Mereka adalah yang gak kebagian lagi kue kekuasaan seperti sebelumnya.

Sialnya mereka ini punya duit bejibun. Hasil dari puluhan tahun merampok kekayaan negara. Jadi kalau cuma mengorder fatwa kafir mah, kecil.

Duit-duit itulah yang sekarang digunakan untuk menyebar berbagai isu. Fatwa bisa diorder. Mimbar agama bisa difasilitasi. Buzzer bisa dibayar. Lalu muncullah isu : Jokowi PKI-lah, antek asing-lah, tidak islamilah. Dana mereka digunakan juga untuk menggerakan masa.

Kepentingan para mafia itu bertemu dengan kelompok islam radikal yang memang sejak orok sudah membenci Indonesia. Klop.

Mafia-mafia itu tidak peduli Indonesia hancur lebur, yang penting mereka untung. Sementara kelompok teroris agama itu sejak awal misinya memang ingin menghancurkan Indonesia.

Memang kamu fikir di tengah kehancuran Suriah tidak ada yang memetik untung? Memang kamu fikir diantara kematian anak-anak di Irak tidak ada yang joget-joget kegirangan?

Sayangnya publik di Indonesia perkembangan evolusinya tidak seragam. Ada yang lingkar otaknya sudah tumbuh maksimal. Ada juga yang proses evolusinya belum selesai.

Nah, kelompok terakhir inilah yang sering bikin repot. Otaknya kecil, suaranya nyaring.**

Sumber : facebook Eko Kunthadi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed