by

Pentingnya Meluruskan Sudut Pandang

Oleh : Leo Tarigan

Dua bahan bakar utama yang menggerakkan sentimen anti Israel di dalam negeri +62.Pertama, isu agama. Karena di dalam kitab suci ada banyak narasi negatif tentang umat Yahudi DI ZAMAN DULU, pandangan sebagian orang terhadap Israel modern juga menjadi sangat terpengaruh. Orang dibuat lupa (sengaja) bahwa di dalam kitab suci juga ada banyak narasi positif tentang Yahudi.

Tapi oleh karena kepentingan, narasi yang dibagikan selalu dipilih yang negatifnya saja. Ini dalam rangka melestarikan kebencian. Juga demi menegakkan kekuasaan, khususnya kekuasan atas pikiran orang lain.Akibat turunan dari cara pandang ini ialah banyak sekali orang berharap agar seluruh rakyat Israel dimusnahkan. Akibat bias perspektif ini, sebagian besar oang Indonesia tidak tahu bahwa Israel modern berbeda dengan penggambaran Yahudi pada waktu kitab suci ditulis.

Publik dibuat tidak mengerti bahwa Israel modern bukanlah Yahudi melulu. Ada 20% warga negara Israel yang beragama Islam dan keturunan Arab. Bahan bakar kedua ialah anggapan bahwa Palestina itu belum merdeka, masih terjajah, belum berdaulat. Dan karena bangsa ini punya memori kelam terhadap penjajahan, khususnya penjajahan bangsa barat, persepsi yang terbentuk atas kondisi Palestina ialah membayangkannya seperti nasib Indonesia ketika dijajah barat.

Mereka bayangkan Israel itu seperti Kumpeni dan Palestina itu seperti Si Pitung dan kawan²nya. Apalagi karena konstitusi kita dengan sangat jelas mencantumkan perlawanan terhadap penjajahan, maka kebencian terhadap Israel sepertinya menjadi sangat legitimate.Maka jadilah bangsa ini selalu ikut terbakar setiap kali ada api terpercik di Palestina.

Bahkan bukan tidak mungkin kebakaran di dalam negeri bisa lebih dahsyat daripada api yang membakar disana. Ada sebagian orang lantas punya imajinasi absurd, mengira bahwa konflik Palestina linier dengan konsep perseteruan Islam vs Kristen. Kristen dianggap bagian dari Yahudi. Minimal sekutu. Orang² yang tertipu ini tidak pernah tahu bahwa jauh lebih banyak kaum muslimin yang jadi warganegara Israel dibandingkan umat Kristen yang jadi warga Israel. Kristen Israel jumlahnya hanya 2% saja dari total penduduk Israel.

Umat Islam warga negara Isarel sepuluh kali lipat lebih banyak dari umat Kristen Israel.Tapi begitulah kesesatan opini itu sudah dibentuk dan dipelihara puluhan tahun. Banyak pihak sengaja melestarikan kesesatan ini, dengan tujuan bisa dipakai untuk mengegrakkan massa didalam negeri bila suatu saat dibutuhkan. Jadi beginilah konstruksi umum cara berpikir kaum.awam republik ini. Israael itu adalah Yahudi, dibantu Kristen. Dan Palestina itu adalah Islam sepenuhnya. Dengan narasi sesat ini tak heran kalau isu Palestina mudah dibawa menjad isu perang agama.

Makhluk² lugu dan lucu² di republik ini dibuat tak pernah tahu bahwa 4% warga Palestina adalah Kristen. Menurun sampai setengahnya dari beberapa tahun sebelumnya, karena banyak yang memilih mencari suaka ke negeri lain daripada terus terjebak dalma konflik tak berkesudahan. Rakyat dalam negeri ini juga dibuat gagal paham bahwa Palestina itu punya banyak faksi. Ada yang memilih jakan damai dan ada yang gila perang, seperti Hamas. Orang dibuat lupa bahwa faksi seperti Fatah lebih suka menghabiskan energinya untuk membangun Palestina.

Berbeda dengan Hamas yang terobsesi ingin memusnahkan Israel, sekalipun itu dengan taruhan penderitaan bagi rakyatnya sendiri. Sudah waktunya kita meluruskan cara² pandang yang menjerumuskan itu. Solusi buat masa depan Palestina dan Israel ialah hidup damai berbagai ruang, bukan kuat²an saling membinasakan. Rakyat +62 semestinya lebih memilih jalan sebagai promotor perdamaian dari pada supporter perang. Kita tidak lagi hidup dijaman unta dan domba menjadi ukuran kekayaan. Ini sudah tahun 2021. Sudah waktunya kita menjelajah ruang angkasa, bukan kejar2an sambil menghunus pedang di gurun pasir.

Sumber : Status Facebook Leo Tarigan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed