by

Penistaan Agama, Muhammad Kace dan Yahya Waloni

Oleh : Bagus Hariyono

Pada rame kasus PENISTAAN AGAMA oleh MK (dulu PZ) dan YW. Salah satu produk pukul balik “agamisasi” orba adalah bangsa mendadak menjadi reljiyus tetapi kurang berspiritual. Pada level relijiyus, kita akan selalu mencari beda, dan kemudian mengIPAkan ilmu agama yang humaniora ke ranah sains IPA. Padahal, sebagai sbagai sebuah hayatan , guru2 besar itu mengajarkan kebajikan di luar sekat formal.

Umat muslim membaca QS 6:108 “Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.” . Umat Kristen punay cerita Good samaritan, dan Budha lewat Ashoka bahkan menulis “barangsiapa yang menistakan agama orang lain, maka dia hakikatnya menistakan agamanya sendiri”.

Dan menariknya itu dilakukan justru banyak oleh para penganut iman baru. Penistaan agama yg diramekan itu nyatanya berbeda isinya dgn yg saya bayangkan. Keberagamaan kita belum sampe berpkir bahwa penistaan itu misalnya di kalangan kristen terjadi pada “kasus pendeta di Surabaya yg menggelapkan uang jemaat dan menikmati tubuh putri jemaatnya” atau “menyetujui penggunaan ayat kitab suci demi menyokong zionisme sebagai kedok imperialisme ERopa”, di satu sisi kaum muslim sangat bersemngat muwarah pada non muslim yg menghiina “Islam”.

Padahal ketika Band Taliyy mengeksequsyi perempuan, atau membuwnuwh guru bahasa Inggris dll , tdk dianggap sebagai penodaan nilai Islam. Kedua pemeluk agama di Indonesia juga tdk menganggap bahwa pejabat2 yang disumpah dgn nama Allah melakukan korupsi tdk dicap sebagai penista agama, padahal jelas Allah ebrkata “Jangan sebut nama Allah tdk dengan hormat” Kita ini hanya main2 agama secara simbol, tetapi tdk sungguh2 mencintai hakekat keberimanan.

Sumber : Status Facebook Bagus Hariyono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed