by

Pengulangan Pola

Oleh : Gunadi

Jasa besar Soeharto bagi Barat adalah menyingkirkan salah-satu pendiri bangsa Indonesia modern, Soekarno. Kekacauan dibuat, lalu SUPERSEMAR yang penuh kontroversi, Suharto berkuasa. Dituntaskan dengan serangkaian pembantaian, maka kokohlah kekuasaannya. Sebagai balas jasa bagi sponsor, disusunlah perekonomian Indonesia menurut model Amerika agar memudahkan penguasaan sumber mineral, pasar dan buruh murah.

Hingga Nixon menyebutnya sebagai “Upeti terbesar dari Asia”. Kenapa Soekarno harus tersingkir, karena dia tidak akomodatif.Sebagai seorang Nasionalis, Soekarno yang yakin pada kemampuan rakyatnya, menentang masuknya korporasi Barat ke Indonesia dan mengusir agen² Barat seperti Bank Dunia dan Dana Moneter International (IMF). Belakangan, muncul seorang Nasionalis lain bernama Jokowi. Sama seperti Soekarno, dia meyakini bahwa Indonesia tak perlu bergantung ke bangsa mana pun. Hubungan antar negara harus didasarkan kesepakatan dan prinsip saling menguntungkan.

Langkah²nya mengembalikan penguasaan sumber alam dari tangan barat tidak bisa dibendung.Tidak dengan konfrontasi; dia selalu legal dan fair, sehingga tak mungkin dilawan dengan cara yang tidak pantas menurut kacamata pergaulan internasional. Tak cukup sampai di situ, Jokowi bahkan mulai menghentikan ekspor bahan mentah secara bertahap.

Bukan untuk menghentikan industri di negara maju, tapi karena Indonesia membutuhkannya sebagai pijakan untuk beringsut menjadi negara maju. Bonus demografi Indonesia akan mencapai puncaknya di 2030. Tanpa pekerjaan, jumlah besar manusia produktif ini akan menjadi bencana. Sebaliknya, jika momentum ini bisa kita manfaatkan, maka Indonesia Emas di tahun 2045 bukan mustahil terwujud.

Perlawanan Barat bukan tidak ada. Mulai dari perundingan panjang yang alot, kembali mengikuti tender, kampanye negatif sampai sampai ancaman membawa persoalan ke WTO. Kita tidak pernah gentar karena tidak ada yang kita langgar. Kita pun melakukan hilirisasi. China, Jepang, Korea, Amrik atau Eropa dipersilahkan datang. Bawa serta pabrik dan teknologi yang dimiliki dan bernegosiasi di sini hingga tercapai win-win bagi kedua pihak.

Barat yang tak suka tak mungkin mendongkel pemimpin sebuah negara berdaulat begitu saja. Harus ada cara lain yang “tak membuat tangan menjadi kotor”. Maka lihatlah sekarang, proksinya di sini dengan konsisten mengangkat semua hal untuk mendiskreditkan Jokowi/Pemerintah. Dengan sadar elit² dan kaki-tangannya melontarkan isu apa saja terus-menerus yang kemudian tanpa sepenuhnya disadari, didukung oleh lapisan akar rumput karena berbagai alasan. Isu ekonomi, pandemi, ancaman China, IKN, bipang, bahkan sampai klepon, makanan yang selama ber-abad² tak pernah jadi bahan perseteruan orang.

Perpanjangan masa jabatan sampe penambahan periode presiden pun dijadikan amunisi menyerang Jokowi walaupun tanpa landasan argumen. Tak perlu argumen yang konsisten karena target-antara mereka adalah mendegradasi dan membelah kita. Namun tak ada isu yang lebih seksi dari isu agama. Isu yang berkaitan dengan agama akan disambut para radikal pendek pikir secara militan yang menerapkannya secara ekstrim, bersandar keyakinannya bahwa mereka sedang memperjuangkan atau sekurangnya menjalankan perntah agama. (Untuk yang satu ini, mereka buat “tim khusus” yang berisi ulama² dadakan atau mengendorse ulama penggaduh. Keturunan arab lebih diutamakan).

Sementara yang lain akan terjebak dalam kebimbangan, ketakutan atau kelelahan oleh hiruk-pikuk pertentangan yang tak berkesudahan.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, “Keuntungan apa yang diharapkan dari rusaknya reputasi Jokowi atau lebih jauh, rusaknya kepercayaan atas sendi-sendi kita bernegara?” Sebagaimana dulu, semua yang terkait, bahkan sekedar “terdengar ada kaitan” dengan Soekarno akan dijustifikasi sebagai buruk. Demikian pula semua yang terkait ke Jokowi.

Dengan demikian diharapkan siapa saja yang dianggap satu visi dan menjadi penerus Jokowi akan memperoleh stigma yang buruk pula. Selanjutnya, akan lebih mudah bagi mereka mendudukan lagi bonekanya di tampuk kekuasaan.”Jika anda normal, jangan diam! Jangan diam!” Itu pesan salah satu ulama idealis negeri ini yg msh tersisa utk kita dengarkan, Buya Syafi’i Ma’arif. “Diam anda akan membuat suara mereka saja yang terdengar. Jika suara mereka saja yang terdengar, maka suara itulah yang akan menjadi kebenaran”, pungkasnya.

Sumber : Status Facebook Gunadi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed