by

Pendakwah yang Berkepentingan

Oleh : Islah Bahrawi

Racun bernama fitnah itu disuarakan, lalu bergulir dari mulut ke mulut dan dianggap sebuah kebenaran. Kebencian terus dibangun dalam fabrikasi politik dengan jubah-jubah ketuhanan. Ini bukan hanya terjadi hari ini, inilah pola yang telah terjadi selama berabad-abad. Sejarah selalu berulang.Dan dalam politisasi agama, para penjahat adalah figur-figur yang tampil suci secara kosmetis tapi batinnya penuh dendam dan kecewa.

Selanjutnya hasutan dilumur ayat-ayat, caci maki dibalur kalimat artifisial berkesan bijak. Dalam politisasi agama, saudara sebangsa bisa berperang dan seagama saling tikam. Manusia tidak lagi menjadi manusia; ia menjadi penghukum sekaligus penghakim – menuhankan manusia dan memanusiakan Tuhan.

Manusia-manusia artifisial dalam politisasi agama selalu menjauh dari cermin. Berkali-kali alam mempermalukannya tapi justru semakin enggan melihat wajahnya sendiri. Mereka melakukan hasutan dan fitnah sekali lagi, lagi dan lagi, karena mereka memang lihai menaklukkan isi kepala orang lain tapi tak pernah bisa mengalahkan isi dadanya sendiri.

Dari mulut para pendakwah yang berkelindan dengan kepentingan politik, membuat agama semakin berkesan tidak menarik. Umat hanya menjadi alat bentur, menjadi mesin perang. Ajaran agama seolah menghalalkan segala cara demi ambisi segelintir manusia yang berusaha menolak takdirnya. Merekalah bagian dari kelompok yang tak pernah berhenti melahirkan reproduksi “Abdurrahman bin Muljam”, abad demi abad, dan terjaga hingga kini.

Pendakwah agama itu bukan jubah, bukan sorban; bukan busana. Seorang pendakwah tidak pernah diperkenankan memindahkan kemarahannya kepada umat, apalagi menularkan niat jahatnya kepada umat – ia penenang ruang bathin dan pembawa kabar gembira bagi orang lain.Namun pendakwah agama dengan seorang penghasut hari ini semakin sulit untuk dibedakan, keduanya menggunakan bahasa dan busana yang sama. Mungkin satu saja bedanya; para penghasut merasa punya jutaan umat, tapi dua kali Pilpres tak berdaya.

Mereka tertipu karena ambisi buta telah menjajahnya. Untuk menutupi rasa malunya mereka memilih jadi “Ampas Pilpres” – menghasut dan memfitnah sana-sini.

#lawanintoleransi

#antiradikalisme

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed