by

Pemungut Cukai Itu Menjadi Menteri

Kedekatan Yesus dengan para pemungut cukai digunakan oleh orang-orang Farisi untuk “menembak” Yesus. Namun Yesus secara radikal melawan kampanye orang-orang Farisi. Tindakan Yesus membangun dan memasuki persekutuan dan persaudaraan dengan orang-orang yang najis dan terpinggirkan, dan makan bersama dengan mereka tanpa memakai meja (open commensality) sehingga terbentuk suatu komunitas yang anggota-anggotanya setara, egaliter, adalah perwujudan dari keyakinan dan pewartaan-Nya bahwa Kerajaan Allah adalah kerajaan yang merobohkan hierarki sosio-religius yang dipertahankan dalam sistem ketahuran Yudaisme.

Dalam kisah perumpamaan Yesus di atas orang Farisi digambarkan dalam berdoa: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah, dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali sepekan, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.” Tidak ada yang salah dengan apa yang diucapkannya itu, karena ia mengucap syukur kepada Allah tidak menjadi orang jahat. Akan tetapi mengapa Yesus menurut penulis Lukas orang itu salah. Kesalahan orang itu ialah mencerap kesalehannya itu dijadikan dasar hubungannya dengan Allah. Orang itu mengandaikan bahwa Allah berada di pihaknya dan Allah pasti menolak “semua orang lain” yang berdosa.

Dasar hubungan dengan Allah bukanlah kebenaran yang dibangun oleh manusia, melainkan lewat anugerah, kemurahan Allah.

Sejak zaman Orde Baru jabatan politik Mendikbud diisi oleh para akademikus yang berjabatan akademis profesor. Mereka adalah orang-orang yang paham pada filsafat pendidikan. Mereka sangat paham persoalan di perguruan tinggi. Para akademikus meyakini kemendikbud akan selalu dipimpin oleh akademikus. Bahkan gurubesar psikologi UGM Prof. Koentjoro mengatakan bahwa Mendikbud yang bukan dari akademikus mudah diperalat oleh para pembantunya karena miskin pengalaman mengurus perguruan tinggi (Detik, 24/10). Dengan kata lainMendikbud haruslah dari bangsawan akademikus.

Demikian juga halnya menteri kesehatan. Jabatan Menkes haruslah diemban oleh dokter tanpa cela. Suci, yang tidak pernah melanggar kode etik kedokteran, yang tidak dikucilkan oleh organisasi profesi IDI, yang bukan orang terpinggirkan.

Pendapat di atas tentu saja tidak salah. Kesalahannya ialah mencerap suatu kebiasaan menjadi hukum agama yang pantang dilanggar oleh presiden. Mereka mengandaikan bahwa presiden pasti memilih orang dari kalangan mereka. Padahal menteri itu jabatan politik yang orang-orangnya diangkat atas dasar prerogatif presiden. Sederhananya suka-sukanya presiden.

Presiden Jokowi kerap didapati berpikir radikal. Lembaga presiden yang dianggap begitu mulia, ia jalankan dengan gaya egaliter. Ia justru bergaul dan membangun kaum dan daerah terpinggirkan oleh pembangunan nasional selama ini. Jokowi bergaul dengan orang-orang najis. Ia membangun open commensality.

Nadiem Makarim adalah pengusaha transportasi pribadi terbesar di Indonesia tanpa memiliki alat transportasi. Ia memungut 20% setiap rupiah yang dihasilkan oleh operator alat transportasi yang menginduk kepadanya. Tidak mengherankan sejumlah SJW (social justice warrior) memaki Nadiem sebagai antek kapitalis.

Dr. Terawan pernah dipecat oleh IDI selama setahun (Februari 2018 – Februari 2019), karena didakwa melanggar kode etik. Ia dipinggirkan. Ia juga diduga memeras pasien-pasiennya. Bahkan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI menyurati Presiden Jokowi untuk membatalkan pengangkatan Dr. Terawan sebagai Menkes.

Stigma yang dilekatkan kepada para pemungut cukai sebagai orang-orang najis, orang-orang terpinggirkan, antek Roma tidak berlaku bagi Jokowi. Jokowi lebih memercayai para pemungut cukai itu, karena mereka mereka mau merendahkan diri dan menerima visi dan misi Jokowi dengan sepenuh hati. Jokowi tidak mau berspekulasi membangun negara dengan orang-orang merasa benar, namun penuh kemunafikan.

Quote of the day:
“Don’t be irreplaceable. If you can’t be replaced, you can’t be promoted.”

يباركك الرب ويحرسك.
يضيء الرب بوجهه عليك ويرحمك.
يرفع الرب وجهه عليك ويمنحك سلاما.

Wassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed